Round-Up

Fakta-fakta Baru Soal Vaksin Merah Putih Buatan Unair

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 20 Apr 2021 08:43 WIB
Tim peneliti vaksin merah putih, rektor unair, Direktur Pendidikan Profesi dan Penelitian RSU dr Soetomo Surabaya dan Direktur Utama RS Unair
Tim peneliti Vaksin Merah Putih (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Ada sejumlah fakta menarik dari Vaksin Merah Putih yang dibuat Universitas Airlangga (Unair). Vaksin ini telah memasuki uji preklinik pada hewan besar, meliputi D614G, B117, E484K dan B1525.

Pembuatan Vaksin Pakai Tiga Platform

Vaksin Merah Putih dari Unair menggunakan inactivated virus. Metode ini digunakan karena hasilnya lebih cepat dibandingkan metode lainnya. Koordinator Produk Riset COVID-19 Unair, Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan, sejak awal penelitian vaksin sudah menggunakan tiga metode.

Tiga metode ini yaitu klasikal yang sering digunakan adalah inactivated virus alias membuat vaksin dari virus utuh yang dimatikan dan dua next generation.

"Yang next generation adalah peptide berbasis peptida dan kedua adalah viral vector," kata Nyoman kepada wartawan di Gedung Rektorat Unair, Senin (19/4/2021).

Pada dua metode next generation, para peneliti Unair memerlukan terobosan dalam pengembangan vaksin Corona ini. Sebab, dua platform tersebut belum banyak digunakan.

"Dalam perjalanan yang next generation itu, sampai hari ini masih kita lakukan penelitiannya. Yang inactivated ini berjalan lebih cepat," ujarnya

Karena mengejar waktu dan mempertimbangkan dana penelitian, maka platform yang akhirnya digunakan hingga jenjang uji klinis ialah inactivated virus. "Ini salah satu strategi scientist di Unair dengan berbagai ilmu bersatu padu. Yang mana yang memungkinkan lebih awal dengan hasil lab bisa dipertanggungjawabkan maka akan diteruskan," katanya.

Nyoman menjelaskan, ketiga platform tersebut memiliki cara pembuatan yang berbeda. Namun memiliki tujuan yang sama, yaitu memperoleh antigen virus. Antigen virus ini nantinya menjadi vaksin, kemudian disuntikkan ke tubuh manusia.

"Semuanya intinya untuk mendapatkan bagian dari protein struktural virus SARS-Cov-2 untuk menjadi bagian antigen yang akan disuntikkan nanti agar tubuh kita semua bisa menggunakan antibodi. Platform apapun yang dipilih kata kuncinya sebenarnya sama," jelasnya.

Meski vaksin Merah Putih menggunakan platform inactivated virus, tetapi dua platform lainnya tetap dikembangkan dalam penelitian. Di mana keduanya masih di tahap uji preklinis.

"Pak Rektor sudah memutuskan atas hasil konsultasi kami yang jalan sampai uji klinis cukup satu karena klinikal trial ini kan biaya besar. Namun platform lainnya tetap dilaksanakan penelitian sampai uji preklinis. Karena kita tidak tahu 2022 tentu namanya hasil penelitian insyaallah akan memberikan nilai manfaat," tandasnya.

Tonton Video: Kapan Vaksin Merah Putih Bisa Diproduksi Secara Massal?

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2