Universitas Brawijaya Gunakan 17 Gedung untuk UTBK-SBMPTN

Muhammad Aminudin - detikNews
Kamis, 15 Apr 2021 14:30 WIB
Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) digelar Universitas Brawijaya (UB). Ada 17 gedung yang digunakan.
UTBK di Universitas Brawijaya/Foto: Istimewa
Malang -

Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) digelar Universitas Brawijaya (UB). Ada 17 gedung yang digunakan.

UTBK dibagi menjadi dua gelombang. Pertama digelar mulai 12-18 April 2021. Sementara gelombang kedua mulai 26 April sampai 2 Mei 2021.

Ada 17.204 peserta yang mengikuti UTBK SBMPTN di UB. Dengan jumlah Saintek sebanyak 8.526, Soshum 7.935, dan campuran 743 peserta.

Untuk memperlancar UTBK, UB menggunakan 17 gedung dengan jumlah 66 ruangan. Belasan gedung yang digunakan tersebut antara lain Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Unit TIK Gedung Rektorat, serta Gedung Inbis.

"Pelaksanaan UTBK di UB menggunakan ruangan sendiri dan tidak meminjam gedung dari perguruan tinggi lain. Hal ini tentunya sangat efisien dari segi biaya," kata Wakil Rektor Bidang Akademik Profesor Aulanni'am kepada wartawan, Kamis (15/4/2021).

Aulanni'am menambahkan, ada 1.275 komputer per sesi dan 10 persen komputer cadangan untuk memperlancar pelaksanaan UTBK. Dari segi protokol kesehatan, perempuan yang pernah meraih gelar ilmuwan terbaik se-Indonesia tersebut mengatakan, setiap ruangan serta kelengkapan ujian yang digunakan disterilisasi terlebih dahulu, dengan melakukan penyemprotan disinfektan.

"UB juga mengatur jarak tempat duduk 1,5 meter antarpeserta, menyediakan masker, sarung tangan, dan face shield cadangan. Pengawas dan panitia yang bertugas juga harus sudah mengikuti protokol kesehatan seperti sudah divaksin atau menjalani rapid test," terangnya.

Ketua Satgas COVID-19 UB Profesor Sri Andarini memastikan, ruangan tes memiliki sirkulasi udara yang baik. Untuk meminimalisir kontak fisik, sebelum memasuki ruangan tes, dan pada saat istirahat, antrean peserta diatur agar tidak bergerombol. Screening untuk peserta dilakukan dengan mengecek suhu tubuh dengan thermo gun.

"Apabila ada yang batuk, pilek, atau sakit, kami sudah menyiapkan ruang isolasi di tiap fakultas tempat diadakannya tes UTBK. Sehingga mereka tetap bisa mengikuti tes," jelasnya.

UB juga menyediakan tim kesehatan dan ambulans, bekerja sama dengan Klinik UB. "Jadi jika ada peserta yang memerlukan bantuan medis akan dijemput dengan ambulans dan dibawa ke Klinik UB," jelas Andarini.

Alur masuk dan keluar kampus juga dibedakan untuk menghindarkan kemacetan. Jika peserta mengalami kesulitan mencari lokasi, disediakan petugas untuk mengantar peserta sampai lokasi tes menggunakan shuttle bus.

(sun/bdh)