Gempa Malang Menurut Primbon Jawa Pertanda Pagebluk Akan Berakhir, Benarkah?

Erliana Riady - detikNews
Senin, 12 Apr 2021 20:15 WIB
Khofifah Tinjau 3 Lokasi Terdampak Gempa Malang, Pastikan Tempat Pengungsian Memadai
Gubernur Khofifah tinjau lokasi (Foto file: Faiq Azmi/detikcom)

Ketua Penghayat Kepercayaan Blitar, Hari Langit menyebut, primbon merupakan ilmu titen-titen. Atau hasil pengamatan tanda-tanda yang terjadi pada alam. Ilmu ini, diperoleh seseorang yang mengasah kepekaannya pada tanda-tanda alam. Melalui olah rasa (bathin) dan olah pikir. Dalam terminologi Jawa disebut Among Roso.

Pada zaman dulu, orang-orang itu rajin mencatat dan bersifat sangat lokal. Bagaimana orang bisa membaca tanda-tanda zaman. Jadi antara mikro kosmos dan makro kosmos bisa menyatu. Sehingga gelombang dan getaran yang dipancarkan alam, bisa diterima dan diterjemahkan secara rasional.

Sekretaris MUI Kabupaten Blitar, Jamil Mashadi mengatakan, primbon adalah semacam karya ilmiah namun bukan menjadi rujukan di dalam hukum Fiqih. Para ulama sepuh dulu, menggabungkan beberapa ilmu Fiqih, Tasawuf dan menandai simbol alam (niteni). Sehingga punya ketajaman dan kepekaan rasa untuk bisa menyampaikan tanda-tanda yang terjadi pada alam.

"Itu juga tidak pasti. Tapi itu merupakan hasil olah batin karena ketajaman dan kepekaan pada simbol atau tanda-tanda alam. Semua yang terjadi di alam dan isinya, atas kehendak Allah SWT," ucap Jamil.

Dalam kearifan lokal masyarakat Jawa, fenomena alam seringkali dikaitkan dengan primbon. Termasuk terjadinya gempa Malang yang disebut pertanda akan berakhirnya pagebluk atau wabahFenomena alam seringkali dikaitkan dengan primbon/ Foto: Erliana Riady

Ayat-ayat Allah, imbuhnya, ada dua. Yakni ayat Qur'aniyah berupa wahyu yang diturunkan kepada RasulNya. Dan ayat Kauniyah, yakni ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah. Berupa alam semesta dan semua yang ada di dalamnya.

"Nah kejadian alam itu ayat Kauniyah. Islam selalu mengajarkan manusia memikirkan sesuatu dan hal di dalam diri dan di alam semesta ciptaan Tuhan ini. Berkali-kali Al-Qur'an menyebutkan: "Afala Tatafakkarun" (apakah kamu tidak memikirkan), "Afala Ta'qilun",(Apakah kamu tidak menggunakan akalmu), "Wa fi Anfusikum, Afala Tubshirun", (Di dalam dirimu apakah kamu tidak melihat?)," tandasnya.

Fenomena gempa terjadi di bulan Sya'ban seperti yang tertulis di Primbon menurut Jamil bisa dimaknai sebagai peringatan. Jangan sebagai justifikasi. Kita diminta menghindari itu agar tetap selamat.

"Seperti sekarang pandemi belum berakhir, maka harus memperketat protokol kesehatan. Adanya cuaca ekstrem membuat panen gagal sehingga harga pangan mahal. Momentum Ramadhan 2021 dan Lebaran sebaiknya lebih berhemat," pungkasnya.

Halaman

(fat/fat)