Pakar Sebut Kaum Marginal hingga Korban Broken Home Mudah Terpapar Radikalisme

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 10:49 WIB
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan, pergeseran pergerakan teroris menggunakan internet. Sehingga banyak menyasar anak muda.
Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto/Foto: Istimewa
Surabaya - Bom bunuh diri di gerbang Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3) dan penyerangan Mabes Polri pada Rabu (31/3), sempat menghebohkan masyarakat. Para pelaku merupakan anak muda atau dari generasi milenial.

Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan, pergeseran pergerakan teroris menggunakan internet. Sehingga banyak menyasar anak muda.

Namun, hal ini tidak membuktikan anak muda lebih mudah dipengaruhi. Persentase anak muda yang mengakses internet lebih banyak, sehingga probabilitasnya lebih besar. Selain persentase, anak muda yang distereotip kritis disebut Bagong lebih mudah terpapar radikalisme.

Tak hanya itu, Bagong mengatakan ada faktor lain yang menjadi pendorong. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu juga menyebut, anak muda yang memiliki psikologis rentan hingga korban broken home mudah terdoktrin.

"Bisa jadi dia dari anak muda yang marginal atau tersisihkan. Bisa juga dia korban, mungkin kekerasan seksual, broken home," papar Bagong di Surabaya, Jumat (9/4/2021).

Bagong menambahkan, saat ini pemerintah sudah berusaha memblokir situs yang diduga menyajikan konten radikalisme. Namun, hal ini bukan langkah paling efisien. Saat ini pembuatan situs sudah sangat mudah dilakukan seperti kata pepatah gugur satu tumbuh seribu.

"Persenjataan dalam era post-modern itu diblokir satu mereka bisa buat lagi saat itu juga. Kuncinya literasi kritis dari anak muda," tambah Bagong.

Untuk itu, Bagong mengatakan literasi kritis sangat diperlukan. Agar milenial tidak mudah percaya hoaks dan mempertanyakan informasi yang didapat melalui internet atau sumber mana pun.

Tak hanya itu, Bagong menambahkan hal ini berasal dari kesadaran individu, ekspansi radikalisme dapat dicegah dengan peran aktif keluarga. Dia mengatakan butuh mekanisme deteksi dini dari orang tua, ketika mengetahui kejanggalan perilaku dan pemikiran anak.

"Orang tua jangan berpikir kalau anak masuk kamar aman. Malah yang nggak keluar-keluar bahaya," kata Bagong.

"Kalau anak misalnya mulai mempersoalkan cara orang tuanya berpakaian, harus berjilbab lebih tertutup, itu orang tua harus ada mungkin anak ini dipengaruhi," lanjutnya.

Selain itu, peran banyak pihak juga dibutuhkan seperti guru sebagai pendidik. Karena banyak yang masih merasa paparan radikalisme, khususnya dari internet tidak dirasa serius. Padahal hal ini merupakan hal serius dan perlu ditangani.

Tonton Video "BNPT: Hasil Survei, Angka Radikalisme di RI Alami Penurunan":

[Gambas:Video 20detik]




(sun/bdh)