Round-Up

Peneliti Prof Nidom Sebut Mutasi Eek Lebih Ganas dan Tak Kebal Vaksin

Tim Detikcom - detikNews
Rabu, 07 Apr 2021 08:00 WIB
Prof nidom
Foto: Istimewa (Dok Prof Nidom)
Surabaya -

Mutasi virus E484K varian Eek menghebohkan masyarakat. Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Professor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom mengatakan virus ini mutasi dari B117. Bahkan, virus ini disebut lebih ganas dari mutasi virus sebelumnya.

"Jadi istilahnya disebut escape mutation berasal dari B117 itu. Jadi B117 ada mutasi lagi di dalamnya yaitu varian Eek. Para ahli sepakat bahwa itu escape mutan, yaitu cara virus menghindari antibodi yang ada dalam tubuh, sehingga tidak mau mati," kata Prof Nidom saat dihubungi detikcom, Selasa (6/4/2021).

Nidom menjelaskan, mutasi virus tersebut pertama kali ditemukan di Afrika Selatan dengan kode B1351 dan di situ terdapat E484K. Namun B117 sudah terkenal lebih cepat. Namun, dari informasi E484K lebih ganas.

"Virus ini (E484K) selain lebih cepat juga mengkhawatirkan penularannya, sifat keganasannya lebih muncul dan disebut escape mutan. Itu proses virus dalam rangka menghindari antibodi dalam tubuh. Setelah diselediki di Brazil ada, Inggris juga ada. Kalau di Inggris informasinya termutan 20 virus dari sekitar 200 ribu pengujian," ujarnya.

Sedangkan mutasi virus Corona B117 dinilai lebih cepat dari mutasi D614G. Prof Nidom khawatir mutasi virus ini lebih ganas, karena virus ini akan meningkat setelah terpapar dan bertemu dengan antibodi.

"Di Indonesia ditemukan satu (Kasus E848K), tapi tidak disertai gejala klinisnya. Secara data harusnya satu itu ditelisik ke pasien siapa yang menerima itu, lalu dicocokkan dengan medical klinik. Ini diumumkan saja bahwa di Indonesia ditemukan virus. Seharusnya ditelusuri, ditemukan di pasien mana, di RS itu kan ada medical record kan, dan dicocokkan dan bisa disampaikan hati-hati dengan gejala klinisnya," jelasnya.

Menurutnya, virus ini harusnya dicocokkan dengan gejala klinis pada kasus yang ditemukan di Indonesia. Sebab, sifat dasar dari virus COVID-19 jinak, namun mutasinya kini disebut lebih ganas.

"Saya melihat virus COVID-19 ini sebetulnya jinak, tapi kalau ketemu komorbid dan mempengaruhi komorbid lebih rusak," katanya.

"Virus ini nggak ganas, seperti flu biasa. Tapi ketika masuk tubuh dan orang itu mempunyai komorbid apakah diabet, darah tinggi, dan lainnya menjadi lebih parah. Sehingga orang tersebut meninggal karena komorbid, bukan karena virus sebetulnya. Tapi belum ada kejelasan apakah virus ini berubah keganasannya atau mempengaruhi komorbid lebih merusak, memperparah. Itu yang belum ada penelitian," tambahnya.

Simak Video: 5 Negara yang Teridentifikasi Temukan Mutasi E484K 'Eek'

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2