BKSDA Teliti Kematian Paus Orca di Pantai Bangsring Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Minggu, 04 Apr 2021 16:48 WIB
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi melakukan penelitian soal terdamparnya paus orca di pesisir Selat Bali. Bersama Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi, BKSDA meneliti penyebab kematian paus sepanjang 5 meter itu.
Evakuasi paus orca yang mati terdampar di pesisir Selat Bali/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi melakukan penelitian soal terdamparnya paus orca di pesisir Selat Bali. Bersama Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi, BKSDA meneliti penyebab kematian paus sepanjang 5 meter itu.

Tak hanya penyebab kematian, tim gabungan ini juga melakukan penelitian tentang migrasi aneh yang terjadi pada paus orca ini. Pasalnya, jenis paus pembunuh ini habitatnya tidak ada di pesisir pantai Banyuwangi.

"Kita lakukan penelitian bersama dengan Program Studi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) di Banyuwangi. Mulai dari penyebab kematian hingga kenapa bisa nyasar hingga ke laut dangkal. Padahal habitat mereka itu di laut dalam," ujar Purwantono, Kepala Seksi Konservasi Wilayah V BKSDA Banyuwangi kepada wartawan, Minggu (4/4/2021).

Paus orca ini jika bermigrasi dari laut dalam, seharusnya, kata Purwantono, migrasi paus dengan corak warna putih hitam itu berada di wilayah Selatan Australia. "Kalau kita lihat arah migrasinya, paus ini adanya di wilayah Australia, itu pun yang bagian selatan," tambahnya.

Orca atau paus pembunuh memiliki nama ilmiah Orcinus orca. Mamalia laut ini umumnya hidup di wilayah dingin seperti Arktik dan Antartika. Namun hewan predator ini sebenarnya dapat ditemukan juga di hampir seluruh bagian dunia, dari perairan kutub sampai tropis.

Penelitian ini, kata Purwantono, untuk mengetahui juga penyebab kematian dari paus orca. "Bisa jadi karena sakit. Kita perlu identifikasi dulu apakah itu memang murni karena sakit, artinya ada perlukaan di organ bagian dalam. Atau memang ada fungsi navigasi yang terganggu akibat perubahan iklim ataupun mungkin aktivitas kontaminasi yang ada di perairan laut ini," pungkasnya.

Sementara Aditya Yudhana, dokter hewan dari Unair dan BKSDA Banyuwangi mengatakan, tim perlu melakukan nekropsi atau bedah bangkai terlebih dulu untuk mengetahui penyebab kematian paus tersebut. Ini adalah semacam autopsi pada manusia namun dilakukan pada hewan. Tim mengambil sampel organ usus tubuh paus tersebut untuk proses nekropsi.

"Nah (penyebab kematiannya) itu akan terjawab setelah proses nekropsinya selesai," ujarnya.

"Untuk sementara, secara makroskopis atau kasat mata, terdeteksi bagian saluran pencernaan (paus), yakni usus kecil dan usus besar, itu terdapat pendarahan. Tapi kita belum bisa konfirmasi apakah itu penyebab utama (kematian) karena kita harus kaitkan dengan parameter yang lain dulu. Nah itu perlu waktu untuk menunggu hasil uji labnya selesai semuanya, baru itu nanti bisa kita putuskan," imbuhnya.

Paus orca ditemukan mati terdampar di perairan Pantai Bangsring, Banyuwangi, Sabtu (3/4/2021). Temuan predator laut ini membuat kaget warga sekitar. Sebab, baru kali ini paus yang memiliki corak warna hitam dan putih di tubuhnya ditemukan terdampar di perairan Selat Bali.

Tonton juga Video: Dramatis! Berjibaku Selamatkan Para Paus Pembunuh yang Terdampar

[Gambas:Video 20detik]



(sun/bdh)