Kata HKTI soal 3.000 Ton Beras Vietnam Sisa Impor 2018 di Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Sabtu, 27 Mar 2021 11:34 WIB
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta operasi pasar beras murah di Banyuwangi tidak menggunakan 3.000 ton beras Vietnam sisa impor 2018. Mengingat, jutaan kilogram beras tersebut telah berusia 3 tahun. Sementara produksi panen padi di Banyuwangi tahun ini diprediksi meningkat 22,8 persen.
Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) HKTI Banyuwangi, Sonny Agus Setiawan/Foto: Ardian Fanani/detikcom
Banyuwangi -

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta operasi pasar beras murah di Banyuwangi tidak menggunakan 3.000 ton beras Vietnam sisa impor 2018. Mengingat, jutaan kilogram beras tersebut telah berusia 3 tahun. Sementara produksi panen padi di Banyuwangi tahun ini diprediksi meningkat 22,8 persen.

"Sebaiknya jangan menggunakan beras yang sisa impor itu ya untuk operasi pasar. Seperti informasi yang kami terima, beras tersebut tidak untuk diedarkan di Jawa. Termasuk Banyuwangi," kata Ketua Dewan Pimpinan Kabupaten (DPK) HKTI Banyuwangi, Sonny Agus Setiawan kepada wartawan, Sabtu (27/3/2021).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, beras Vietnam tersebut tersimpan merata di gudang-gudang Bulog Banyuwangi. Hingga kini, masih tersimpan rapi menunggu instruksi dari pusat untuk dikeluarkan.

Dijelaskan Sonny, musim panen padi pada tahun ini di Banyuwangi diprediksi meningkat. Ketimbang menggunakan beras impor untuk operasi pasar, alangkah baiknya menggunakan beras dari musim panen raya saat ini. Langkah ini, dinilainya bisa membantu para petani untuk mengatasi jebloknya harga gabah.

"Beras kita di Banyuwangi sudah melimpah. Jadi operasi pasar tidak perlu menggunakan beras impor lah. Pakai saja beras sendiri, sekaligus bisa membantu petani," katanya.

Menurut Sony, mengenai kualitas sisa beras impor di Banyuwangi bisa dipastikan turun setelah penyimpanan selama 3 tahun. "Beras kalau lama disimpan, pasti ada penurunan mutu. Meskipun diproses kembali dengan mengelupaskan kulit ari, namun baunya pasti apek," kata Sonny.

Soal penundaan wacana impor beras, Sonny pun turut lega. Karena HKTI kurang sepakat dengan wacana mendatangkan beras asing. Terlebih jika dilakukan di musim panen raya saat ini. Menurutnya, wacana impor beras menjadi salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi anjloknya harga gabah saat ini.

"Kalau ditunda, para petani pastinya turut lega. Namun yang jelas, kami kurang bersepakat soal wacana impor beras ini. Terlebih di masa panen raya seperti ini," jelas Sonny.

Untuk kebutuhan pangan di Banyuwangi untuk 3 tahun ke depan juga dipastikan aman. Bulog telah memiliki stok beras sejumlah 14 ribu ton beras lokal. Jika ditotal dengan sisa impor, berarti ada 17 ribu ton beras yang tersimpan di Banyuwangi.

Untuk 3.000 ton beras Vietnam sisa impor tahun 2018, Bulog sendiri masih menunggu instruksi pusat. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan, beras-beras tersebut akan dikeluarkan. Tentunya dengan diproses ulang terlebih dahulu.

Simak Video "Jokowi: Tidak Ada Impor Beras Sampai Juni 2021!":

[Gambas:Video 20detik]



(sun/bdh)