Kerangka Tiga Wanita di Situs Kumitir Potensi Jadi Temuan Manusia Era Klasik

Kerangka Tiga Wanita di Situs Kumitir Potensi Jadi Temuan Manusia Era Klasik

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 14:02 WIB
Kerangka Tiga Wanita di Situs Kumitir Berpotensi jadi Temuan Penting Manusia Era Klasik
Pakar Antropologi Forensik Unair Dr Phil Toetik Koesbardiati Foto: Istimewa (Dok Humas Unair)
Surabaya - Sisa peninggalan Kerajaan Majapahit kembali ditemukan di Situs Kumitir Mojokerto, Rabu (3/3). Temuan tiga kerangka wanita disebut berpotensi menjadi temuan penting manusia era klasik.

Sebelumnya, tiga kerangka wanita ini ditemukan selama ekskavasi tahap ketiga yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur di area sebelah barat tempat pemakaman umum Dusun Bendo, Desa Kumitir. Rangka manusia itu ditemukan saat mengangkat tanah di kedalaman 60 cm pada sektor C Situs Kumitir.

Pakar Antropologi Forensik Universitas Airlangga (Unair) Dr. Phil. Toetik Koesbardiati, yang tergabung dalam penelitian bersama tim Ekskavasi BPCB Jatim menyebut temuan ini sangat berharga.

Apa bila kerangka tersebut berasal dari era Majapahit, Toetik meyakini temuan ini akan sangat berharga bagi informasi manusia era klasik Majapahit yang masih jarang ditemui. Terlebih, apa bila analisis DNA telah didapat, peneliti bisa mengetahui afiliasi populasi dari kerangka tersebut.

"Kalau pun bukan dari era Majapahit, artinya masih manusia dari era modern, tetap saja temuan sisa rangka manusia ini bermakna untuk diteliti sepanjang tidak melanggar kode etik dan budaya lokal," papar Toetik di Surabaya, Selasa (23/3/2021).

Selain berpotensi menjadi temuan penting manusia era klasik Indonesia, kerangka ini juga dapat dijadikan media pendidikan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung di lapangan.

Tak hanya itu, Toetik menyebut satu dari tiga temuan kerangka tersebut relatif utuh secara struktur.

"Kondisinya memang sudah remuk di beberapa tempat. Namun struktur rangka dari tengkorak hingga kaki masih lengkap. Begitu pula bagian rusuk, tulang belakang, dan lengan," ungkap dosen Antropologi Forensik Ragawi FISIP Unair ini.

Jika dilihat berdasarkan pelvis dan tengkorak, kerangka tersebut diidentifikasi berjenis kelamin perempuan dengan estimasi umur 20-30 tahun dan tinggi badan 141-153 cm. Toetik yang tergabung dalam upaya eskavasi sejak Selasa (9/3) mengaku telah mengambil sampel bagian tulang telinga dan tulang tangan untuk diidentifikasi.

Posisi kerangka manusia perempuan itu juga cukup unik karena berposisi tengkurap. Oleh karena itu, analisis arkeotanatologi untuk mengetahui alasan posisi rangka tengkurap akan segera dilakukan apa bila semua rangka telah terekspos dan data penggalian telah dilengkapi.

Begitu pula dengan penentuan usia kerangka. Hal ini penting untuk mengetahui apakah kerangka tersebut berhubungan dengan era Majapahit atau kah kerangka manusia modern yang dikubur di sana. Hal tersebut perlu dilakukan lantaran tepat di sebelah timur lokasi penemuan kerangka adalah tempat pemakaman umum Dusun Bendo.

"Makanya kami perlu melakukan dating atau penanggalan untuk mengetahui secara pasti umur atau pada masa apa sisa rangka manusia ini pernah hidup," imbuhnya.

Kerangka Tiga Wanita di Situs Kumitir Berpotensi jadi Temuan Penting Manusia Era KlasikKerangka Tiga Wanita di Situs Kumitir/ Foto: Istimewa (Dok Humas Unair)

Sebelumnya, serpihan tulang manusia lebih dulu ditemukan tim ekskavasi pada Rabu (3/3). Tulang belulang itu terkubur sekitar 60 cm dari permukaan tanah. Hasil identifikasi sementara ahli antropologi forensik Unair, serpihan tulang tersebut dari jasad dua perempuan.

Selanjutnya pada Selasa (9/3), tim ekskavasi BPCB Jatim bersama ahli antropologi forensik Unair menemukan satu kerangka manusia yang relatif utuh. Menurut ahli, kerangka ini berjenis kelamin perempuan. Hanya saja jasad tersebut dimakamkan tak wajar karena posisi kerangka tengkurap.

Sejauh ini, Situs Kumitir diekskavasi dalam tiga tahap. Yakni pada 2019, 2020 dan 2021. Tahun ini, penggalian arkeologis digelar selama satu bulan, 1-30 Maret. Situs Kumitir diyakini sebagai sisa-sisa istana Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk. Hipotesis itu berdasarkan berbagai temuan arkeologis dan literatur yang diperoleh tim ekskavasi.

Situs Kumitir juga diyakini menjadi tempat pendarmaan atau tempat menghormati Mahesa Cempaka, salah seorang raja bawahan Singosari. Bhre Wengker konon membangun tempat suci untuk menghormati leluhurnya, Mahesa Cempaka di dalam istananya yang kini menjadi Situs Kumitir. (hil/fat)