Hipotesis Baru soal Situs Kumitir di Mojokerto: Istana Paman Hayam Wuruk

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 17 Mar 2021 20:43 WIB
Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim mecetuskan hipotesis baru, setelah menggelar tiga tahap ekskavasi Situs Kumitir di Kabupaten Mojokerto. Struktur kuno yang ditemukan di area seluas 6,4 hektare tersebut diyakini sebagai istana persinggahan Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk.
Ekskavasi Situs Kumitir di Kabupaten Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim mencetuskan hipotesis baru, setelah menggelar tiga tahap ekskavasi Situs Kumitir di Kabupaten Mojokerto. Struktur kuno yang ditemukan di area seluas 6,4 hektare tersebut diyakini sebagai istana persinggahan Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk.

Ekskavasi Situs Kumitir di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo digelar tim dari BPCB Jatim pada 2019, 2020 dan 2021. Penggalian arkeologis tahap ketiga tahun ini berlangsung satu bulan, 1-30 Maret.

Sampai saat ini, tim ekskavasi berhasil menemukan tembok pelindung Situs Kumitir. Struktur tembok dari bata merah itu mempunyai ketebalan 140 cm dan tinggi 120 cm. Tembok ini mengelilingi Situs Kumitir hingga membentuk area persegi panjang seluas 64.148 meter persegi atau 6,4 hektare. Yaitu panjang tembok dari barat ke timur 316 meter dan 203 meter dari utara ke selatan.

"Di bagian tengah atau di sektor A, B, C (area yang dikelilingi tembok) kami temukan struktur bata dengan kombinasi bongkahan batu bulat atau bolder dan batu persegi. Kami duga ini istana Bhre Wengker," kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir, Wicaksono Dwi Nugroho kepada detikcom, Rabu (17/3/2021).

Struktur yang diyakini para arkeolog sebagai sisa-sisa istana Bhre Wengker ditemukan tepat di sebelah barat tempat pemakaman umum Dusun Bendo. Bangunan seluas 20 x 26 meter persegi itu menghadap ke barat, atau lurus dengan pintu gerbang yang ditemukan di tembok keliling sisi barat.

Selain berbagai temuan arkeologis, lanjut Wicaksono, hipotesis Situs Kumitir adalah istana Bhre Wengker juga ditunjang bukti-bukti literatur. Antara lain dari Kitab Negarakertagama, Kidung Wargasari dan Pararaton.

"Disebutkan tempat pendarmaan Mahesa Cempaka di Wengker. Di Wengker bukan berarti lokasinya di Ponorogo sebagai wilayah kekuasaan Bhre Wengker, tapi di Kumitir merupakan istana Bhre Wengker. Di dalam Kitab Negarakertagama pupuh 41 disebutkan di timur (keraton Majapahit) menjulang istana ajaib Bhre Wengker dan Rani Dhaha atau Bhre Dhaha," terangnya.

Bhre Wengker bergelar Wijayarajasa, kata Wicaksono, merupakan raja kecil atau raja negara bagian yang menjadi bawahan Raja Majapahit. Kala itu Majapahit dipimpin Hayam Wuruk tahun 1350-1389 masehi. Bhre Wengker menikah dengan Bhre Dhaha yang bergelar Rajadewi Maharajasa. Bhre Dhaha dan Tribuana Tunggadewi sama-sama putri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.

Selanjutnya
Halaman
1 2