Kasus Nyanyi Tanpa Masker, Walkot Blitar yang Minta Maaf Diminta Introspeksi

Esti Widiyana - detikNews
Minggu, 14 Mar 2021 18:31 WIB
Menurut Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam, pejabat publik harus benar-benar memahami fungsi sebagai edukator yang bisa menjadi contoh dan keteladanan di masa pandemi COVID-19. Terlebih pemimpin daerah harus istiqomah memberi inspirasi, dan juga bisa empati terhadap situasi.
Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam/Foto: Istimewa
Surabaya -

Beberapa waktu lalu Wali Kota Blitar Santoso viral karena bernyanyi tanpa masker di tengah sebuah kerumunan. Lalu bagaimana tanggapan pengamat politik?

Menurut Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam, pejabat publik harus benar-benar memahami fungsi sebagai edukator yang bisa menjadi contoh dan keteladanan di masa pandemi COVID-19. Terlebih pemimpin daerah harus istiqomah memberi inspirasi, dan juga bisa empati terhadap situasi.

"Itu harus benar-benar dipegang teguh untuk menguatkan kepemimpinan empatik di masa pandemi ini. Kealpaan di ruang publik jelas akan memberi pesan buruk untuk edukasi publik dan pada gilirannya akan membuat masyarakat kian bebal dan tidak respek kepada para pemimpin publik," kata Surokim saat dihubungi detikcom, Minggu (14/3/2021).

Oleh karena itu, kata Surokim, jangan sampai kepala daerah abai. Tetap berhati-hati saat berada di ruang publik. Ia juga mengingatkan agar pemimpin daerah harus bisa menjadi penguat berbagai pesan pemerintah dalam penanganan pandemi COVID-19 ini.

Bagi Dekan Fisib UTM ini, masyarakat Indonesia masih kuat akan patron kliennya atau timbal balik antara dua orang. Sehingga apa saja yang dilakukan pejabat publik akan menjadi contoh bagi publik.

"Menurut saya ini harus menjadi pelajaran, introspeksi dan juga retrospeksi ke depannya bahwa menjadi pejabat publik berada di ruang publik tidak boleh abai dengan perannya, sebagai penguat pesan penanganan pandemi COVID-19 kepada masyarakat," jelasnya.

"Nihilnya kepekaan dan empati pejabat publik sebagai edukator tentu menyedihkan, menyesakkan. Menurut saya juga kemunduran di tengah upaya pemerintah meraih trust publik menghadapi pandemi ini," tambahnya.

Ia juga menambahkan, kepemimpinan, keteladanan dan empati merupakan modal utama kepemimpinan di masa pandemi COVID-19. "Jangan sampai di masa pandemi ini para pejabat defisit keteladanan, karena semangat saling menguatkan itu juga bisa menjadi solusi dalam menghadapi pandemi ini," pungkasnya.

Wali Kota Blitar Santoso telah meminta maaf atas videonya yang viral. Dalam video berdurasi 4.28 itu, Santoso tampak bernyanyi tanpa memakai masker. Ada kerumunan di sekitarnya, tanpa menjaga jarak. Santoso juga terlihat membagikan uang kepada beberapa perempuan tanpa mengenakan sarung tangan.

Selain meminta maaf, Santoso juga berjanji tidak akan mengintervensi proses hukum dugaan pelanggaran prokes di video itu. Dia akan menghormati instansi yang berwenang menjalankan tugas mereka. Karena Santoso menilai, masing-masing instansi punya SOP dalam penanganan suatu kasus yang terjadi.

(sun/bdh)