Polisi Ancam Mahasiswa Papua Diviralkan, Ini Penjelasan Kapolresta Kota Malang

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 10 Mar 2021 17:12 WIB
demo ricuh di malang
Truk polisi yang kacanya dipecahkan pendemo (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang -

Demo hari perempuan sedunia di Kota Malang berlangsung ricuh, Senin (8/3). Massa pendemo merusak truk polisi. Mereka memecahkan kaca truk polisi sehingga petugas yang ada di balik kemudi terluka.

Massa pendemo berasal dari Aliansi Gerakan Perempuan Bersama Rakyat (GEMPUR). Secara bersamaan ikut pula massa pendemo dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMAPA).

Di saat massa GEMPUR bubar dan membatalkan longmarch, justru peserta aksi dari AMP dan IPMAPA bergerak dan menggelar orasi. Polisi bersama Satgas COVID-19 Kota Malang meminta pendemo bubar karena dinilai melanggar protokol kesehatan.

Tiga truk disediakan untuk mengevakuasi peserta aksi menuju tempat masing-masing. Negoisasi berjalan alot, pendemo menolak dievakuasi, dan justru berlaku anarkis dan sampai memecah kaca truk. Sejumlah mahasiswa diamankan dan dibawa ke Polresta Malang Kota. Malam harinya, para mahasiswa kemudian mendatangi Polresta Malang Kota untuk menjenguk rekannya.

Saat para mahasiswa hendak masuk, ada teriakan dari polisi bahwa mahasiswa dilarang masuk. Jika masuk, maka akan ditembak. Video teriakan polisi yang hendak menembak mahasiswa tersebut viral di media sosial dan aplikasi percakapan. Dalam video berdurasi 23 detik itu, hanya terdengar teriakan itu saja, tak terlihat siapa yang berteriak.

Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata mengatakan video yang viral tersebut adalah video yang telah dipotong. Karena dipotong, maka video itu tidak benar.

"Itu videonya dipotong. Jadi yang benar adalah mereka mencoba merangsek masuk ke dalam satuan saya. Itu pintunya kan ditutup. Mereka memaksa masuk, itu yang terjadi. Jadi itu videonya dipotong," ujar Leo.

Karena para mahasiswa memaksa masuk, kata Leo, secara otomatis dia tidak mengizinkan. Karena untuk masuk kantor polisi, harus ada aturannya.

"Mereka memaksa masuk. Saya katakan tidak boleh masuk. Kalo kamu masuk, itu ada aturannya. Kita punya SOP. Kalau ada yang masuk, merusak markas, kita lakukan tindakan tegas," tandas Leo.

(iwd/iwd)