Cerita di Balik Prostitusi Online dalam Kasus Pembunuhan di Kota Kediri

Andhika Dwi - detikNews
Selasa, 09 Mar 2021 19:42 WIB
Kasus prostitusi online di Kota Kediri terbongkar dari kasus pembunuhan. Sebab, pembunuhan itu terjadi dalam praktik prostitusi online.
Jumpa pers Polres Kediri Kota/Foto: Andhika Dwi/detikcom
Kediri -

Kasus prostitusi online di Kota Kediri terbongkar dari kasus pembunuhan. Sebab, pembunuhan itu terjadi dalam praktik prostitusi online.

Polisi membongkar kasus prostitusi online sindikat asal Bandung, Jawa Barat. Pengungkapan kasus ini berawal dari ditemukannya M (17) yang tewas bersimbah darah di sebuah hotel di Kota Kediri pada Minggu (28/2). Polisi akhirnya menangkap Refi Purnomo (23), pelaku pembunuhan yang tidak lain merupakan pelanggan korban prostitusi online.

Ada tiga tersangka yang diamankan dalam kasus prostitusi online tersebut. Yakni DK yang merupakan pacar M, lalu D yang merupakan kakak dari DK, dan N yang merupakan istri D.

Sebelum membuka layanan prostitusi online, sindikat ini pernah membuka layanan pijat plus di hotel di Kediri. Karena banyak peminat di Kediri, lalu mereka kembali dan mulai membuka praktik prostitusi online.

D dan N yang berstatus suami istri menawarkan anaknya sendiri, T dan temannya, M melalui MiChat. Tarifnya Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu untuk pijat. Lalu ada tarif Rp 400 ribu hingga Rp 800 ribu untuk praktik prostitusi online.

"Saya terpaksa dan demi membantu ekonomi rumah tangga kami melakukan ini. Dan bukan saya yang mengajak ke sini tapi anak saya yang mengajak ke Kediri. Karena sebelumnya anak saya pernah diajak temannya ke Kediri," ucap N kepada polisi di hadapan wartawan, Selasa (9/3/2021).

Sementara Kasat Reskrim Polres Kediri Kota AKP Verawaty Thaib menjelaskan soal praktik prostitusi online yang dilakukan para tersangka. "Dalam menjalankan bisnisnya, pasutri ini selalu berpindah-pindah kota. Selain di Kota Kediri, pelaku juga pernah menjalankan bisnisnya di Tulungagung dan Madiun. Hampir setiap hari selalu mendapat pelanggan," jelasnya.

Hal tersebut juga diperkuat oleh penuturan penasihat hukum tersangka, Rinni Puspitasari. Sebagai seorang praktisi hukum, ia juga mengaku kaget dengan penuturan kliennya, yang menganggap Kota Kediri sebagai pasar yang menjanjikan untuk bisnis prostitusi online.

"Ternyata sudah ada di kota kita tercinta ini hal semacam ini, dan selain BO awalnya dia melayani pijat. Dan sebelumnya mereka mendapat info bahwa di Kota Kediri banyak peminat dan pelanggannya. Saya miris mendengar hal ini," terang Rinni.

(sun/bdh)