Setahun Pandemi Corona, Dokter dan Nakes Rela Tak Bertemu Keluarga Berhari-hari

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 18:44 WIB
Ilustrasi Tenaga Kesehatan
Foto: Ilustrasi: Fuad Hashim
Surabaya - Satu tahun lamanya virus COVID-19 menyebar di Indonesia. Hingga setahun Corona, wabah dari Wuhan ini belum juga berlalu. Sebagai garda terdepan, banyak cerita haru dari para tenaga kesehatan (nakes) di RS. Bahkan mereka harus menahan rindu bertemu keluarga di rumah.

Setahun Corona di RI tenaga kesehatan dan dokter merasakan dampaknya. Selain jarang bertemu keluarga, mereka mengaku khawatir menularkan virus COVID-19 ke orang lain. Salah satu nakes yang merawat pasien COVID-19 yakni dokter di RS Royal Surabaya, dr Dewa Nyoman Sutanaya SH MHKes MARS.

Dia menceritakan keinginannya berkumpul dengan teman dan keluarga. Namun hal itu terhalang rasa khawatir lebih besar karena bisa menularkan COVID-19.

"Kami-kami yang di bidang kesehatan ini setiap kali keluar dari RS ada rasa was-was, setiap kumpul dengan keluarga besar ada rasa lebih was-was lagi. Sehingga, di saat orang lain liburan, merayakan event-event tertentu kita sedikit enggaknya "iri", karena kita masih punya tanggung jawab melayani pasien dan kita nggak mau menularkan ke keluarga besar kita," kata Dewa saat dihubungi detikcom, Selasa (2/3/2021).

Dewa mengatakan selama setahun Corona lebih banyak mengalami dukanya. Sebab, nakes yang ada di RS-lah yang berhadapan langsung dengan pasien COVID-19. Sehingga selalu timbul rasa was-was dalam diri.

"Was-was terhadap diri sendiri, was-was terhadap keluarga, setiap hari pulang nggak nyaman, sering ganti baju dan mandi. Di RS pun kita juga was-was bertemu dengan pasien kita curiga ini covid atau bukan. Sehingga kita ujung-ujungnya akhirnya terbiasa dengan pola itu," tandasnya.

Simak juga Video: Kilas Balik Setahun Covid-19 di Tanah Air

[Gambas:Video 20detik]



Hal senada diungkapkan dokter di RS Universitas Airlangga (RS Unair) Surabaya, dr Alfian Nur Rasyid SpP. Dia mengaku menangani pasien mulai pagi hingga tengah malam merasakan badan tak enak. Apalagi, pasien terus berdatangan, membuat mereka kewalahan di RS. Bekerja hingga larut malam, membuat imunitas nakes menurun karena kelelahan.

Karena berdekatan langsung dengan pasien positif Corona, Alfian harus memindahkan anak dan istrinya ke rumah mertua. Sehingga selama empat hari dia tak bertemu keluarga kecilnya.

"Empat hari ndak ketemu anak istri, karena mereka di rumah mertua, saya di rumah sendirian," kata Alfian kepada saat dihubungi detikcom beberapa waktu lalu, Selasa (24/3/2020).

Selain itu, kebutuhan SDM tenaga medis sempat terpontang-panting karena membludaknya pasien di poli khusus. Beruntungnya saat ini SDM yang ada sudah mencukupi.

Tapi, lanjut Alfian, kemungkinan jika semakin banyak pasien tentu saja perlu mengatur siklus pegawai. Misalkan ada yang drop atau bahkan positif COVID-19 tidak dianjurkan untuk bekerja. Hal itu sudah menjasi bagian yang diperhitungkan oleh tim satgas corona yang ada di RS Unair.

"Misalkan ada satu perawat atau dokter yang positif, ndak boleh masuk (kerja) dan kami tekankan kalau positif tidak boleh masuk, tidak usah khawatir dan cemas. Itu saya sampaikan," jelasnya. (fat/fat)