PVMBG Pantau Erupsi Gunung Raung dan Pasang Dua Alat GPS

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 10 Feb 2021 18:55 WIB
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat GPS di lereng Gunung Raung yang erupsi. Dua alat dipasang di Jember dan Bondowoso.
PVMBG memantau erupsi Gunung Raung/Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasang alat GPS di lereng Gunung Raung yang erupsi. Dua alat dipasang di Jember dan Bondowoso.

Pemasangan dua GPS itu melengkapi tiga GPS yang sudah terpasang sebelumnya. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung, Mukijo mengatakan, GPS tersebut berfungsi untuk pengamatan atau pemantauan deformasi gunung api.

"Ada dua unit yang dipasang. Pemasangan dilakukan pada Senin, 8 Februari kemarin di dua titik. Satu di Silo, Jember dan satu lagi di Sumberwringin, Bondowoso," katanya kepada wartawan, Rabu (10/2/2021).

GPS merupakan sistem satelit navigasi yang membantu menentukan posisi, yang berbasis pada pengamatan satelit GPS. Ini merupakan pemberian dari PVMBG.

"GPS yang kita pasang di lereng Gunung Raung itu berasal dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dengan alat ini kita bisa banyak mempelajari aktivitas Gunung Raung," tambahnya.

Cara kerjanya atau operasionalnya di gunung api, dengan survei GPS yakni menempatkannya pada titik yang ditetapkan koordinatnya dengan GPS. Dengan penetapan titik secara akurat dan mempelajari pola dan kecepatan perubahan koordinat pada kecepatan perubahan koordinat di titik itu, maka karakteristik ground deformation pada tubuh gunung api dapat dihitung dan selanjutnya dipelajari.

Pemantauan deformasi dilakukan dengan menggunakan GPS secara episodik dan atau kontinyu. Pemasangan dua GPS ini melengkapi tiga GPS yang sudah terpasang sebelumnya.

"Kalau untuk total GPS yang terpasang untuk Gunung Raung ada lima unit. Dua di antaranya ada di Banyuwangi yakni di PPGA Raung dan di Glenmore, satu lagi ada di Jampit Bondowoso," ungkap Mukijo.

Selain pemasangan GPS, upaya pemantauan gunung setinggi 3.332 mdpl itu juga menggunakan uji laboratorium terhadap debu vulkanik. PPGA Raung saat ini masih terus mengumpulkan sampel abu untuk diteliti.

"Saat ini masih terus kita kumpulkan, setelah itu kami kirim ke pusat untuk dianalisa. Kalau untuk keluarnya hasil uji lab kapan kami belum tahu, yang pasti penelitian itu tidak menjadi acuan dalam mengambil keputusan," tambah Mukijo.

Dalam data PPGA Raung periode pengamatan pukul 06.00-12.00 WIB, asap kawah teramati berwarna kelabu dan hitam, dengan intensitas sedang hingga tebal, dengan tinggi 1.000-2.000 meter di atas puncak kawah.

Abu vulkanik mengarah ke timur dan terdengar suara gemuruh. Sedangkan kegempaan tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 3-24 mm (dominan 7 mm). Status Gunung Raung hingga saat ini masih level II (waspada).

(sun/bdh)