Dear Bu Bupati, Pengungsi Banjir Jombang di Tanggul Sungai Brantas Butuh Ini

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 21:14 WIB
banjir di jombang
Warga yang mengungsi di tanggul Sungai Brantas sangat membutuhkan bantuan (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jombang -

Hampir seribu jiwa korban banjir di Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang memilih mengungsi di sepanjang tanggul Sungai Brantas selama 3-4 hari terakhir. Saat ini, mereka membutuhkan bantuan obat-obatan, selimut, tenda, tikar, tempat buang air besar yang layak, serta tambahan air bersih.

Data yang dirilis BPBD Jombang, pengungsi di tanggul Sungai Brantas mencapai 923 jiwa. Mereka berasal dari 3 dusun di Desa Bandar Kedungmulyo. Yaitu 138 jiwa dari Dusun Bandar Kedungmulyo, 460 jiwa dari Dusun Kedunggabus, serta 325 jiwa dari Dusun Kedungasem.

Pemerintah sejatinya sudah menyiapkan tempat pengungsian di tiga titik sejak banjir melanda desa ini sejak Jumat (5/2) malam. Yakni di balai desa, serta SDN Bandar Kedungmulyo 1 dan 2. Namun, 923 korban banjir di 3 dusun tersebut menolak ke tempat pengungsian karena dianggap terlalu jauh.

Mereka memilih mendirikan tenda darurat di sepanjang tanggul Sungai Brantas. Tak pelak, para pengungsi harus rela tidur beralaskan tikar dan terpal seadanya.

"Kami butuh bantuan tenda, selimut dan tikar untuk tidur. Karena yang ada (bawa dari rumah) kurang memenuhi syarat saat kena hujan dan angin. Kalau kena angin mudah rusak," kata Ali (60), pengungsi asal Dusun Kedunggabus kepada wartawan di lokasi, Senin (8/2/2021).

Ali menjelaskan tenda-tenda darurat di kelompoknya saja saat ini ditempati 25 keluarga pengungsi warga RT 2 RW 1 Dusun Kedunggabus. Menurut dia, terdapat sekitar 20 anak-anak di tempat pengungsian ini. Sejauh ini, baru satu pengungsi yang menderita demam sehingga harus dirawat di Puskesmas Bandar Kedungmulyo.

"Obat-obatan belum ada bantuan, seperti balsem, obat gatal-gatal, diare, obat kepala pusing kalau sewaktu-waktu kami butuhkan. Puskesmas keliling ada," ujar Ali.

Pasokan air bersih, lanjut Ali, juga harus ditambah. Karena kiriman air bersih dari pemerintah belum cukup untuk mandi dan mencuci pakaian para pengungsi.

"Untuk buang air besar juga tidak ada tempatnya. Selama ini yang perempuan harus lari ke rumah saudara terdekat. Sebagian yang pria terpaksa di sungai," ungkapnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2