Dokter RS Unair Ini Sebut Puncak COVID-19 Gelombang 2 Terjadi Januari 2021

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 30 Des 2020 19:25 WIB
Jubir Satgas Corona RS Unair dr Alfian Nur Rasyid SpP
Dokter Spesialis Paru RS Unair dr Alfian Nur Rasyid SpP (Foto: Esti Widiyana/File)
Surabaya -

Kasus COVID-19 di Jawa Timur masih mengalami kenaikan. Faktanya, banyak RS di beberapa daerah di Jatim overload. Bahkan RS di Surabaya mengalami kekurangan tenaga kesehatan (nakes).

Dokter spesialis paru di RS Unair yang menangani pasien Corona langsung, dr Alfian Nur Rasyid menyebut pandemi saat ini sudah pada gelombang kedua. Di mana puncaknya nanti akan terjadi pada awal tahun 2021 usai Natal dan tahun baru.

"Iya, bisa disebut gelombang kedua. Puncak gelombang kedua kemungkinan di pertengahan atau akhir Januari 2021," kata dr Alfian saat dihubungi detikcom, Rabu (30/12/2020).

Alfian menafsir puncak gelombang kedua COVID-19 ini dua sampai empat minggu pasca Natal dan tahun baru. Terlebih saat ini masyarakat banyak mengacuhkan protokol kesehatan. Sehingga puncak pandemi akan terjadi lagi untuk kedua kalinya.

"Mulai acuh dan bosannya masyarakat untuk patuh protokol kesehatan. Banyak fakta seperti itu di masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, bisa jadi masyarakat sudah tidak takut karena dirinya dan keluarga terdekat tidak ada yang terjangkit COVID-19. Sehingga masyarakat mulai tidak percaya dengan adanya virus ini.

"Bila ada yang terdiagnosis COVID-19, mereka menyangkal. Di antara mereka, banyak yang sudah tidak melakukan protokol kesehatan di jalan-jalan, namun ya kok aman-aman saja ndak terkena COVID. Sehingga bisa jadi muncul asumsi COVID itu tidak ada. Padahal mereka tidak diswab setelah kontak dengan pasien COVID lantaran lemahnya tes dan tracing," jelasnya.

Alfian mengimbau kepada masyarakat sebagai garda terdepan, untuk melindungi dirinya dan keluarganya dari tertular COVID-19. Ia mengingatkan masyarakat jika saat ini pandemi belum berakhir, kasus COVID-19 di RS rujukan masih meningkat. Kamar isolasi dan ICU penuh.

"Dengan melakukan upaya sederhana berupa 3M, maka sudah meminimalkan tertular COVID-19. Mendukung usaha keras pemerintah untuk terus mengingatkan masyarakat patuh protokol. Mendukung upaya pemerintah memaksimalkan upaya 3T (testing, treatment dan tracing). Selain itu mendukung vaksinasi masyarakat secara massal dan gratis dengan menggunakan vaksin yang telah terbukti paten dan aman, serta disetujui BPOM," pungkasnya.

(iwd/iwd)