Jadi Instrumen Pemulihan Ekonomi, Ini Strategi Banyuwangi di Sektor Wisata

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 28 Des 2020 22:43 WIB
Kementerian Perhubungan bersama Perum Damri telah menyediakan layanan angkutan wisata gratis ke sejumlah destinasi wisata di Banyuwangi.
De Djawatan (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Sektor pariwisata menjadi salah satu instrumen yang disiapkan Pemkab Banyuwangi untuk memulihkan ekonomi setelah terpukul dampak pandemi COVID-19. Sejumlah strategi telah disiapkan untuk menyongsong 2021, diiringi dengan optimisme vaksinasi akan sukses dilakukan.

"2021 harus optimistis. Kita yakin pemerintah pusat bersama para ilmuwan telah menyiapkan vaksinasi terbaik untuk warga, sehingga pemulihan ekonomi bisa berjalan cepat tahun depan. Di Banyuwangi, pariwisata menjadi salah satu instrumen pemulihan ekonomi bersama pertanian dan UMKM," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas kepada detikcom, Senin (28/12/2020).

Anas mengatakan, ada sejumlah strategi yang disiapkan Banyuwangi, yang dikenal dengan destinasi Kawah Ijen, untuk menyongsong pemulihan pariwisata. Pertama, terus meningkatkan kualitas layanan berbasis CHSE (cleanliness/kebersihan, health/kesehatan, safety/keamanan, dan environment/ramah lingkungan).

"Berwisata kini bukan hanya soal urusan bersenang-senang. Tapi di era pandemi dan nantinya seusai vaksinasi, berwisata tetap harus berorientasi kesehatan, wisata yang bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental. Banyuwangi punya banyak keunggulan terkait itu," ujarnya.

Anas mencontohkan, saat ini pihaknya terus mematangkan persiapan Geopark Ijen masuk jaringan geopark dunia dan siap mengikuti penilaian UNESCO GGN (Global Geopark Network). Tahun ini, Geopark Ijen adalah satu-satunya geopark Indonesia yang diusulkan pemerintah pusat masuk jaringan geopark dunia.

"Kami berterima kasih atas dukungan Pemprov Jatim dan pemerintah pusat yang membawa Geopark Ijen menuju jaringan geopark dunia," ujar Anas.

Selain itu, imbuh Anas, Banyuwangi juga telah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer Dunia, yang ditetapkan oleh UNESCO untuk Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen yang kemudian dinamai Cagar Alam Blambangan.