Jago PDIP Tumbang di Pilbup Blitar 2020, Ini Ulasan Pengamat Politik UB

Erliana Riady - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 12:24 WIB
Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB), Dr Sholih Muadi
Pengamat politik Universitas Brawijaya Dr Sholih Muadi (Foto: Istimewa)
Blitar -

Hasil hitung cepat Pilbup Blitar 2020 menunjukkan petahana yang diusung PDIP tumbang di kandangnya sendiri. Pengamat politik Universitas Brawijaya (UB), Dr Sholih Muadi menilai ada tiga faktor yang menciptakan kejutan besar ini terjadi.

Sholih menyebut kemenangan Mak Rini-Rahmad yang diusung PKB, PAN, dan PKS merupakan kejutan besar. Sholih sendiripun mengaku terkejut dengan hasil sementara perolehan suara di Pilbup Blitar 2020 ini.

"Saya sendiri terkejut. Secara hitungan politis ini sangat mengejutkan. Tapi kemudian saya berusaha mencari tahu dengan menghubungi beberapa kawan di Muslimat," tutur Sholih dalam awal perbincangan dengan detikcom, Jumat (11/12/2020).

Seperti diketahui, Blitar merupakan basis militan PDIP. Ikatan emosional secara historis menjadi kultur ketika Soekarno dimakamkan di wilayah ini. Dalam beberapa periode kontestasi pemilihan bupati, paslon yang diusung PDIP selalu mendapat kemenangan mutlak.

Bahkan dalam periode Pilbup Blitar sebelumnya (2015-2020), semua partai menyatukan dukungan kepada PDIP untuk mengusung paslon tunggal. Yakni Rijanto-Marhaenis.
Sholih menilai ini menjadi faktor pertama bagi petahana tidak punya pengalaman bertarung dengan kandidat lain di pilkada.

"Pertama, kedua incumbent maju semua. Mereka tidak berpengalaman bertarung dengan lawan. Dalam kontestasi kali ini, mereka melihatnya masih dalam pertarungan yang sama, karena merasa sudah leading," ungkapnya.

Sehingga pada paruh kedua periode petahana ini, lanjut Sholih, mereka tidak bekerja secara maksimal. Walaupun banyak partai besar memberikan dukungan, namun Sholih melihat mereka tidak solid dengan PDIP. Sehingga kerja koalisi besar juga tidak maksimal.

Simak juga video 'Situs Bawaslu Makasar Sempat Diretas, Bertulis Ingat Janji Manismu':

[Gambas:Video 20detik]



"Sementara penantang yang merasa elektabilitas dan akseptabilitasnya di survei awal rendah, nampaknya dalam waktu singkat bekerja sangat luar biasa keras. Dan kandidat yang diusung juga punya kemampuan melobi beberapa organisasi," tandas Dekan Fisip UB ini.

Mak Rini, lanjutnya, dengan profil keibuan dan lemah lembut mendatangi satu per satu jemaah NU, Fatayat, Muslimat, bahkan Aisyah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan PKS. Walaupun di level pengurus Muslimat mendeklarasikan diri mendukung petahana, namun diam-diam di level bawah digerogoti oleh PKB.

"Jangan salah ya. Mak Rini ini berpendidikan bagus. Alumni UB setahu saya. Dia cerdas mencari celah masuk ke soliditas kalangan ibu-ibu NU, Muslimat, Fatayat, dan Aisyah," ungkapnya.

Faktor kedua ini pulalah yang dinilai Sholih mampu mengantarkan Mak Rini mengikuti tren mencalonkan diri menjadi kepala daerah perempuan. Seperti di Batu, Surabaya, Jombang, Jember, dan Batu, juga Gubernur Jatim sendiri.

"Banyuwangi Bu Azwar Anas juga yang menang. Tren ini (kepala daerah perempuan) juga yang akan membawa perubahan yang ditawarkan koalisi PKB, PAN dan PKS," paparnya.

Sholih melanjutkan, jargon yang diusung, PKB adalah NU. NU adalah PKB, adalah cara cerdas menggiring kekuatan Islam menjadi cair dan menyatu. Ada pola komunikasi baru dan harapan baru yang dibangun pendatang baru kepada konstituennya.

"Apakah selama ini incumbent tidak mengakomodir aspirasi konstituen, saya tidak bisa mengatakan itu. Tapi Mak Rini lebih prigel (luwes) ngopeni komunitas ini. Peran tim di tingkat bawah maksimal kerjanya. Sehingga dukungan semua partai itu bisa cair," pungkas Sholih.

(iwd/iwd)