Dituding Politik Memecah Belah, MA: Jangan Rumah Tangga Rusak, Kita Dituduh

Faiq Azmi - detikNews
Jumat, 20 Nov 2020 19:14 WIB
Cawali Machfud Arifin Siapkan Distrik Inovasi serta Stadion Esports di Surabaya
Machfud Arifin (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

PDI Perjuangan menuding ada politik pecah belah yang diterapkan lawan jagonya dalam Pilwali Surabaya 2020. Machfud Arifin yang menjadi rival PDIP di Pilwali Surabaya menanggapi dengan santai.

"Sebetulnya saya malas menanggapi. Bukan ranah saya untuk menanggapi ini. Biarkan tim saya saja atau tim pemenangan saya," ujar Machfud Arifin kepada wartawan di Posko Pemenangan Maju (Machfud Arifin-Mujiaman), Surabaya, Jumat (20/11/2020).

Machfud menjelaskan dirinya enggan mengomentari hal tersebut karena sudah banyak beredar video tokoh senior PDIP Surabaya yang sudah mengklarifikasi.

"Bahkan mungkin sudah banyak beredar video dari saudara Seno, itu cukup mewakili apakah saya dianggap memecah belah. Atau mungkin silahkan tanya ke saudara Mat Mochtar," jelasnya.

Calon Wali Kota Surabaya nomor urut 2 yang berpasangan dengan calon wakil wali kota Mujiaman Sukirno ini menyebut, PDIP adalah partai yang besar, organisasinya besar dan kuat.

"Bagaimana saya memecah-belah. Janganlah rumah tangga rusak, terus kita dituduh-tuduh. Masak tetangga yang disalahkan," tegasnya.

Arek asli Ketintang, Surabaya ini menambahkan, dirinya dan Mujiaman fokus menjalankan tahapan kampanye Pilwali Surabaya 2020.

"Saya fokus di tahapan kampanye ini dalam kontestasi pilwali dan mengikuti aturan. Saya dan Pak Mujiaman mengikuti deklarasi yang dilakukan oleh Bawaslu, KPU. Semuanya hadir," pungkasnya.

Diketahui sebelumnya, Ketua DPP PDIP bidang organisasi Djarot Syaiful Hidayat menilai, paslon nomor urut 2, Mahfud Arifin-Mujiaman Sukirno kurang begitu paham dengan pemerintahan yang baik. Menurut Djarot, Machfud terlihat menggunakan strategi memecah belah, termasuk mendekati Seno, anak almarhum Pak Soetjipto.

"MA telah melakukan politik devide et empire ala kolonialisme Belanda. Politik pemecah belah selama masa kolonial selalu dilawan oleh seluruh anak bangsa, termasuk NU, Muhammadiyah, dan PNI saat itu. Jadi rasanya kurang elok kalau tim MA menjalankan politik adu domba, termasuk apa yang dilakukan oleh Mat Mochtar. Sebab itu cara kolonial yang ditentang arek-arek Surabaya," jelas Djarot.

(iwd/iwd)