Tradisi Berkunjung ke Watudodol Rutin Dilakukan Warga Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Minggu, 15 Nov 2020 18:09 WIB
Tradisi Berkunjung ke Watudodol Terus Dilakukan Masyarakat Banyuwangi Hingga Hari Ini
Tradisi di Banyuwangi Puter Kayun sebelum pandemi (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi -

Watudodol menjadi gerbang masuk Banyuwangi. Setiap tahun, warga Banyuwangi datang ke Watudodol untuk menggelar acara tradisi puter kayun. Mereka menggelar selamatan dan mandi di 7 hari setelah lebaran Idul Fitri.

Puter Kayun merupakan tradisi yang dilakukan warga Boyolangu, saat memasuki hari ke-10, Bulan Syawal. Puter kayun adalah ritual menapati janji warga Boyolangu kepada para leluhur, Ki mertojoyo atau Ki Buyut Jokso, yang telah berjasa membuka jalan di kawasan utara Banyuwangi. Mereka melakukan napak tilas dengan menaiki delman hias dari Boyolangu menuju Watudodol.

"Makanya setiap kali bulan Syawal kita menggelar Puter Kayun. Ini napak tilas dengan menaiki delman hias dari Boyolangu menuju Watudodol," ujar Mohamad Ihrom, budayawan Banyuwangi kepada detikcom, Minggu (15/11/2020).

Biasanya, kegiatan puter kayun diikuti oleh 20 delman. Mereka terdiri dari keluarga yang ingin menghabiskan libur lebaran di Pantai Watudodol. Tak hanya itu, mereka menggelar kegiatan itu sesuai pesan dari Ki Buyut Jakso, agar anak cucu keturunannya harus berkunjung ke Pantai Watudodol untuk melakukan napak tilas apa yang telah dilakukannya.

"Karena saat itu hampir semua masyarakat Boyolangu berprofesi sebagai kusir dokar, maka mereka mengendarai dokar untuk napak tilasnya," ujarnya.

Setelah tiba Watu Dodol, mereka menggelar selamatan. Sebagian tokoh adat juga menaburkan bunga berbagai rupa ke laut untuk menghormati para pendahulu mereka yang meninggal saat pembuatan jalan.

Sebelum pelaksanaan puter kayun, tradisi ini diawali sejumlah ritual. Dimulai dari nyekar ke makam Buyut Jakso dan tradisi kupat sewu (seribu ketupat) yang digelar tiga hari sebelum puter kayun dan pertunjukan barong pada malam puter kayun.

(fat/fat)