Sejarah Kawasan Watudodol yang Dikenal Angker, Gerbang Jalur Banyuwangi-Surabaya

Ardian Fanani - detikNews
Minggu, 15 Nov 2020 16:23 WIB
Pintu Gerbang Banyuwangi Yang Dikenal Angker
Watudodol, gerbang Jalan Banyuwangi ke Surabaya(Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi -

Nama Watudodol muncul dari beberapa versi. Gerbang menuju kota Banyuwangi ini, merupakan sejarah jalan antara Banyuwangi ke Surabaya atau sebaliknya. Banyak yang mengira, Watudodol itu karena bentuknya seperti makanan Jenang Dodol, tapi hal itu dibantah budayawan Banyuwangi.

Dalam Wikipedia, dituliskan Watudodol adalah batu besar setinggi 6 meter yang berada di pinggir Pantai Utara Banyuwangi. Dalam bahasa Jawa, Watu memiliki arti Batu. Istilah Dodol dapat diartikan sebagai jenang. Jenang Dodol dapat merujuk kepada makanan manis berbentuk persegi seukuran kelingking. Dodol juga dapat berupa makanan dari ketan yang ditumbuk, dibentuk lonjong seukuran telapak tangan, kemudian digoreng.

Namun hal itu dibantah budayawan Banyuwangi, Mohammad Ihrom. Menurut Ihrom, Watudodol adalah sejarah pembukaan jalan dari Banyuwangi ke Surabaya atau sebaliknya. Pada masa penjajahan, Belanda membuat proyek pembangunan jalan tembus ke Banyuwangi. Namun terhalang oleh batu besar di pinggir pantai dan bukit yang tinggi. Namun pekerja Belanda tak bisa menjebol bongkahan baru di Pantai itu. Hingga akhirnya mereka meminta kepada tokoh masyarakat di Banyuwangi, Ki Martojoyo atau Buyut Jaksa untuk membantu dibukanya jalan itu.

"Ki Buyut Jaksa ini tokoh masyarakat orang Boyolangu. Beliau orang sakti yang dipercaya menjadi Jaksa di Banyuwangi. Akhirnya, dengan bantuan Ki Martojoyo batu itu bisa di dodol atau dibongkar," ujarnya kepada detikcom, Minggu (15/11/2020).

"Jadi dodol itu bukan berarti jenang Dodol. Tapi dodol itu artinya dibongkar," tambahnya.

Sebelum membongkar batu yang menghalangi jalan, kata Ihrom, Ki Martojoyo sempat berdialog dengan penghuni batu yang merupakan makhluk halus. Mereka sebenarnya tak menginginkan adanya pembongkaran itu. Negosiasi hingga peperangan secara halus pun terjadi. Hingga akhirnya pasukan makhluk halus pun dikalahkan.

"Namun ada syarat yakni menyisakan batu besar sebagai anjir atau penanda sebagai monumen jika itu sebagai tempat makhluk halus," tambahnya.

Menurut Ihrom, batu besar itu sempat akan dirobohkan dengan menarik dengan kapal. Namun, kapal tak bisa menyeret batu itu. Bahkan sempat juga dirobohkan, tapi keesokan harinya kembali lagi.

"Tempat ini sakral bagi masyarakat Banyuwangi. Dan sekarang menjadi apik setelah adanya banyak pembangunan," pungkasnya.

(fat/fat)