Ciptakan Pilkada Damai, Polisi Banyuwangi Undang Organisasi Keagamaan

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 14:12 WIB
polresta banyuwangi
Polresta Banyuwangi mengumpulkan organisasi keagamaan untuk Pilkada damai (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Antisipasi memanasnya suhu politik menjelang Pilbup Banyuwangi, Polresta Banyuwangi mengumpulkan organisasi keagamaan. Ini dilakukan untuk menciptakan Pilkada damai dan mengantisipasi kegiatan pelanggaran, berupa politik uang, hoaks, black campaign, dan politisasi sara.

Hadir dalam acara tersebut, perwakilan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Pengurus Daerah (PD MUHAMADIYAH), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), BANSER, KOKAM dan SENKOM, di ruang Rupatama Mapolresta Banyuwangi, Jumat (13/11/2020). Hadir pula Ketua MUI Banyuwangi, KH M Yamin dan Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin.

Arman mengatakan kontestasi Pilbup Banyuwangi 2020 memasuki masa akhir kampanye. Sehingga suhu politik sedikit memanas. Oleh karena itu, polisi melakukan pertemuan dengan tokoh agama dan pengurus lembaga keagamaan untuk meredam aksi yang disinyalir bisa memecah belah masyarakat.

"Beberapa hari ini banyak permasalahan yang membuat suhu politik naik. Tentu kita menyikapi dengan mengumpulkan tokoh masyarakat, ulama dan lembaga keagamaan agar tidak ada gesekan," ujar Arman.

Menurut Arman, tokoh masyarakat dan kelembagaan keagamaan di Banyuwangi memiliki komitmen dalam mewujudkan Banyuwangi yang kondusif di Pilkada Banyuwangi 2020. Untuk itu, pihaknya meminta kepada organisasi masyarakat untuk ikut serta membuat suhu politik di Banyuwangi semakin adem.

"Peran organisasi masyarakat ini sangat dibutuhkan. Mereka bisa meredam kegiatan massa yang dinilai akan mengancam keamanan dan ketertiban Pilkada," tambahnya.

Ditambahkan oleh Ketua MUI Banyuwangi, KH M Yamin, peran serta organisasi keagamaan sangat besar membuat kondisi aman menjelang pencoblosan 9 Desember mendatang. Oleh karena itu, pihaknya meminta, organisasi keagamaan turut andil menjaga dan mengajak masyarakat untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan masyarakat.

"Saat ini bertebaran black campaign dan kegiatan yang sempat membuat gaduh di Kecamatan Genteng. Kita harap organisasi masyarakat kembali menyadarkan warga untuk tidak melakukan tindakan yang memecah belah," ujarnya.

Pemilu Bupati dan Wakil Bupati adalah sebagai cara untuk memilih pemimpin Banyuwangi yang bisa memajukan daerah. Ada dua paslon yang akan bertarung di Pilkada Banyuwangi 2020 ini. Bagi simpatisan dan tim sukses keduanya diharapkan bisa memberikan edukasi politik yang santun dan tidak membuat masyarakat resah.

"Boleh beda pilihan politik, namun tetap menjaga kerukunan, keamanan dan ketertiban bersama untuk Banyuwangi yang lebih baik lagi," pungkasnya.

Seperti diketahui, beberapa hari kemarin bertebaran spanduk yang diduga black campaign yang ditujukan terhadap salah satu paslon Pilbup Banyuwangi 2020. Selain itu juga ada video dugaan pengusiran anggota panwascam beredar di medsos oleh salah satu pasangan calon. Hal ini menimbulkan keresahan masyarakat menjelang Pilkada Banyuwangi 2020.

(iwd/iwd)