Round-Up

Mitos Warga Bojonegoro dan Cepu 'Dilarang' Naik Gunung Lawu Hanyalah Legenda

Tim Detikcom - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 08:51 WIB
Postingan yang diunggah @pendakiindonesia soal mitos warga Bojonegoro dan Cepu dilarang naik ke Gunung Lawu, viral di medsos.
Foto: Tangkapan Layar
Surabaya -

Postingan yang diunggah @pendakiindonesia soal mitos warga Bojonegoro dan Cepu 'dilarang' naik ke Gunung Lawu, viral di medsos. Postingan yang diunggah Rabu (11/11/2020) mendapat ratusan komentar dan disukai ribuan netizen.

Jika mitos larangan itu dilanggar akan mendapat musibah. Isi caption postingan "Warga Bojonegoro dan Cepu 'dilarang' naik ke Gunung Lawu" tertulis:

Yakinlah tathayyur tidak memberikan mudharat sama sekali
Adanya pertanda-pertanda tersebut (mata berkedut, burung gagak, dll) sama sekali tidak memberikan mudharat sama sekali.

Maka tidak perlu takut atau khawatir ketika melihat pertanda-pertanda tersebut, karena tidak ada pengaruhnya sama sekali. Dan bertawakkal hanya kepada Allah. Inilah solusi dari tathayyur yang muncul dalam hati.

Sebagian netizen komentar mengharapkan mitos warga Bojonegoro dan Cepu 'dilarang' naik Gunung Lawu itu tidak ada dan tidak mempercayai perihal tersebut. Bahkan ada yang menyebut berkali-kali ke mendaki Gunung Lawu tetap aman dan lancar hingga pulang.

Sebagian netizen justru mengajak pendaki dan petualang bangga dengan alam Indonesia bercerita dengan cerita yang menarik. Seperti komentar:

@rudy_purrwanto Sebuah mitos dulunya ada salah satu fungsi untuk membuat masyarakat sekitar takut berbuat kerusakan di wilayah tersebut, di gunung contohnya (tidak menebangi pohon/buang sampah/dll). Tp dg berkembangnya zaman, teknologi dan informasi, dg sendirinya mitos tidak lagi bisa digunakan utk mencegah pengrusakan. Krn orang2 cenderung bisa berpikir rasional dan tidak menganggap hal2 tersebut bisa terjadi. Apalagi gunung sekarang sudah layaknya tempat wisata yg banyak sekali pengunjungnya, shg hal2 mistis akan memudar dg sendirinya. Shg yg paling penting adl memberikan edukasi dan penegakan disiplin bagi pendaki agar tidak melakukan perusakan alam.

@ppauss_1_03 Pdhal menurut fakta sejarah atlas walisongo,g pernah raja demak nyerang majapahit,seng nyerang majapahit adalah raja kediri yg bernama girindrawardhana,opo meneh sabdo palon noyo genggong,babat kediri,semua itu adalah sejarah yg diputar balikan oleh penjajah belanda untuk mengadu domba warga,sama seperti perang bubat yg bikin pertentangan antara kerajaan pasundan n majapahit,pdhal majapahit g pernah membunuh raja pasundan n keluarganya n itu jadi prtntangan hingga kini,makanya di jatim g ada jl.siliwangi n dijabar juga g ada jl.majapahit,untunge skrng sudah agak melek sejarah,di srbaya sekang ada jln siliwangi,😀

Selanjutnya
Halaman
1 2