Inflasi 0,07%, Indikator Ekonomi Banyuwangi Mulai Pulih

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 21:47 WIB
bupati anas
Bupati Anas dan Kepala BI Jember Hestu Wibowo (Foto: Istimewa)
Banyuwangi -

Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,07 persen pada bulan Oktober 2020. Bank Indonesia menilai inflasi ini menunjukkan jika pemulihan perekonomian daerah mulai bergerak setelah terpaan pandemi COVID-19 hampir setahun ini.

Hal itu disampaikan Kepala Bank Indonesia Jember Hestu Wibowo pada pertemuan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Pendopo Sabha Swagata, Senin (9/10/2020). Hadir di acara tersebut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi dan Kepala Bulog Cabang Banyuwangi Yusri Pakke.

HLM kali ini menjadi yang pertama setelah Banyuwangi dinobatkan sebagai kabupaten pengendali inflasi terbaik nasional oleh pemerintah pusat.

Hestu menjelaskan inflasi sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus selalu dikhawatirkan dan ditakutkan. Sebab, inflasi juga menjadi penanda adanya pergerakan dan pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, apalagi di suatu pandemi semacam ini.

"Inflasi menunjukkan adanya kegiatan supply dan demand yang berjalan. Namun yang harus diperhatikan adalah angka inflasi harus terjaga pada tingkat yang diharapkan, caranya dengan pengendalian. Karena jika di suatu daerah angka inflasinya terlalu tinggi atau terlalu rendah berarti ada masalah pada perekonomian daerah tersebut," terang Hestu kepada wartawan.

Di masa pandemi saat ini, sejumlah daerah di Jawa Timur mengalami deflasi (angka inflasinya turun), masuk ke angka minus (rendah). Propinsi Jatim sendiri juga mengalami deflasi hingga Oktober, termasuk Banyuwangi juga mengalami deflasi di bulan Agustus dan September.

"Nah di Oktober ini, Banyuwangi sudah keluar dari deflasi, dengan mengalami inflasi sebesar 0,07 persen. Ini menunjukkan perekonomian daerah mulai bangkit dan bergerak. Hal ini sesuai dengan laporan BPS dimana sektor pariwisata daerah mulai bergeliat dan berangsur pulih. Bidang akomodasi, makanan dan minuman juga terus mengalami kenaikan," terang Hestu.

Selanjutnya
Halaman
1 2