Polisi Buru Pengunggah Pertama Video Hoaks Pasien COVID-19 Hilang Bola Mata

M Rofiq - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 13:06 WIB
penyebar hoaks jenazah covid di probolinggo
7 Orang penyebar video hoaks pasien COVID-19 hilang bola matanya (Foto: M Rofiq)
Probolinggo - Polisi telah mengamankan tujuh penyebar video hoaks soal pasien COVID-19 di Probolinggo yang kehilangan bola mata. Tetapi pengunggah atau yang memberi caption tersebut belum ditangkap.

"Masih dalam penelusuran dan penyelidikan untuk pelaku yang menyebar pertama ke medsos dan memberikan caption bohong," ujar Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan saat dihubungi detikcom, Senin (9/11/2020).

Ferdy mengatakan penyelidikan dilakukan salah satunya bekerja sama dengan admin group medsos di mana pelaku mengunggah pertama kali video tersebut dan memberi caption yang salah.

"Kami mengimbau pelaku yang mengunggah pertama dan memberikan keterangan berita bohong segera menyerahkan diri sebelum kami yang menangkap," kata Ferdy.

Keluarga juga berharap pengunggah pertama kali video tersebut segera ditangkap. Keluarga ingin pelaku segera meminta maaf dan memberi klarifikasi serta alasan apa maksud dari pelaku menyebarkan berita hoaks tersebut.

"Terimakasih dan apresiasi kepada bapak polisi yang dengan cepat mengamankan 7 orang penyebar berita bohong. Kami berharap aktor utama atau pengunggah pertama ke Medsos dan orang yang memberi keterangan palsu segera diamankan juga guna memberikan klarifikasi berita yang sebenarnya," ujar salah satu perwakilan keluarga, Ainur Huda.

Sebelumnya beredar video seorang pasien COVID-19 yang diviralkan matanya hilang setelah dibawa pulang. Isi dalam caption tersebut adalah,

'Jika MEMANG INFO DEMIKIAN , DIBAWAH INI MAKA PENJARAKAN OKNUM SEBERAT²NYA , mohon izin @polresprobolinggokota chek info validnya terima kasih hormat saya 🙏

Jenazah pasien yang 'katanya' kena kopit di Probolinggo setelah dibuka ternyata kedua b0l4 matanya sudah tidak ada, d4r4h pun masih bercucuran 😭.

Petugas sempat melarang untuk melihat jenazah namun pihak keluarga memaksa karena yakin almarhumah tidak punya riwayat kontak dengan pasien kopit' (iwd/iwd)