Begini Momen Jamasan Pusaka Kyai Pradah Saat Pandemi COVID-19

Erliana Riady - detikNews
Sabtu, 31 Okt 2020 10:59 WIB
Momen Jamasan Kiai Pradah Jadi Sarana Sosialisasi Perubahan Perilaku Kenormalan Baru
Ritual Jamasan Pusaka Kali Pradah (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Blitar -

Ada yang berbeda di momen jamasan (Membersihkan) Pusaka Kiai Pradah kali ini. Padahal tiap peringatan Maulid Nabi SAW, lokasi ini dipenuhi ribuan warga ngalap berkah air bekas jamasan Kiai Pradah. Tak tampak pula pasar rakyat, yang biasanya hadir sebulan menjelang ritual yang jadi magnet pariwisata budaya di Kabupaten Blitar ini.

Tak ada kerumunan massa seperti biasanya. Alun-alun Lodoyo Kecamatan Sutojayan tampak lengang. Pemkab Blitar memanfaatkan ritual tahunan ini sebagai sarana sosialisasi perubahan perilaku di kehidupan normal baru.

Dimulai sekitar pukul 07.00 WIB, jamasan Kiai Pradah saat pandemi COVID-19 dilakukan sangat sederhana. Dilakukan di dalam gedung sanggar tempat penyimpanan gong bertuah. Dan yang berada dalam ruangan hanya para pinisepuh setempat serta beberapa media untuk mengambil gambarnya. Itupun secara bergantian dan wajib memakai masker.

Namun saat ritual akan dimulai, tak pelak masih juga terjadi kerumunan warga yang ingin mengabadikan moment sakral ini. Akhirnya, panitia melakukan ritual dimajukan tempatnya. Jamasan dan pemukulan gong dilakukan di teras sanggar penyimpanan.

"Momen budaya ini sekaligus sebagai sarana sosialisasi perubahan perilaku di masa new normal. Bahwa di semua kegiatan, kita harus menyesuaikan diri tertib memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan," kata Pjs Bupati Blitar, Budi Santoso kepada wartawan, Sabtu (31/10/2020).

Momen Jamasan Kiai Pradah Jadi Sarana Sosialisasi Perubahan Perilaku Kenormalan BaruMomen Jamasan Kiai Pradah saat new normal/ Foto: Erliana Riady

Menurut Budi, semua kegiatan warga harus kembali berjalan normal. Seperti ritual jamasan Kiai Pradah yang menjadi simbol pengharapan dan doa terbaik bagi kehidupan warga yang masih meyakininya. Dengan digelarnya acara ini, diharapkan sendi perekonomian warga juga mulai bergerak dan berjalan menuju kondisi normal.

"Kegiatan kebudayaan dan seni bisa tetap berjalan. Namun harus disiplin menerapkan protokol kesehatan. Tetap kita aturan-aturan yang berlaku karena dikuatirkan akan menimbulkan klaster baru," imbuhnya.

Meski digelar dengan perubahan perilaku kesehatan, namun Budi memastikan, pakem dan urutan ritual tetap terjaga. Nuansa kebatinan dan nilai-nilai kearifan lokal tidak berubah dan pesan moral yang disampaikan tetap terjaga di hati para warga.

"Semoga wabah COVID-19 segera hilang. Dan tahun depan kita bisa gelar jamasan Kiai Pradah ini dengan perubahan perilaku. Yang lebih higienis, lebih teratur sehingga benar-benar membawa kebaikan bagi kita semua, Aamiin," pungkasnya.

(fat/fat)