Massa Demo Omnibus Law Besok Diminta Pakai Seragam Agar Tak Disusupi

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 19 Okt 2020 21:59 WIB
demo buruh tolak omnibus law
Foto: Tangkapan Layar
Surabaya -

Demo tolak RUU Cipta Kerja Omnibus Law akan kembali digelar di Grahadi Surabaya besok Selasa (20/10). Massa aksi akan dilakukan oleh Gerakan Tolak Omnibus Law (Getol) Jatim yang tergabung dari puluhan elemen buruh dan mahasiswa.

"Akan berkumpul di Kebun Binatang Surabaya sekira pukul 12.00 WIB. Selanjutnya kita bergerak long march menuju Gedung Grahadi. Sasaran kita hanya satu. Kita akan aksi sampai tuntutan kita mencabut UU Omnibus Law dicabut. Itu harga mati," kata Jubir Getol Jatim Nuruddin Hidayat ketika dihubungi wartawan Senin, (19/10/2020).

Sebelumnya, perwakilan Getol Jatim yang ditemani Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa bertemu dengan Menko Polhukam Mahfud MD pada (14/10) lalu di Jakarta. Pertemuan itu tak lain adalah meminta pencabutan UU Omnibus Law.

Namun, aspirasi itu tidak diterima. Getol Jatim disarankan untuk menempuh jalur hukum dengan menggugat melalui Mahkamah Konstitusi (MK). "Dari situ tuntutan kita tidak terakomodir," ujarnya.

Saat demo besok, Getol Jatim mengimbau agar para peserta aksi menggunakan seragam dari kelompok masing-masing. "Iya kami mengimbau agar peserta aksi menggunakan seragam. Maksutnya, seperti yang buruh pakai seragam kerjanya, terus mahasiswa pakai almamater mereka," jelasnya.

Penggunaan seragam itu untuk mengantisipasi provokator yang menyusup di antara pendemo. Akibatnya akan terjadi demo yang tidak diinginkan.

"Untuk mengantisipasi adanya penyusup yang memprovokasi tindakan anarkis. Setiap masing-masing elemen di Getol Jatim diimbau untuk menggunakan seragam masing-masing organisasi," tegasnya. .

Pihaknya juga tidak mempermasalahkan massa yang menggunakan seragam sekolah. Sebab, semua masyarakat bebas mengungkapkan pendapat.

"Pelajar tidak masuk dalam elemen Getol Jatim, kalau melarang itu nggak bisa karena itu hak masing-masing orang. Kalau ditemui gak masalah, selama mereka gak anarkis," pungkasnya.

(iwd/iwd)