Ngebor Sumur Hingga 90 Meter di Sumenep, yang Keluar Justru Lumpur Berbau Gas

Ahmad Rahman - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 19:47 WIB
sumur bor keluar gas
Sumur bor yang mengeluarkan air campur lumpur serta gas (Foto: Ahmad Rahman)
Sumenep -

Sebuah sumur bor (artesis) di halaman rumah warga Dusun Lubulu, Desa Gunung Kembang, Manding, Sumenep, mengeluarkan air bercampur lumpur. Selain lumpur, tercium juga bau gas.

Sumur berbau gas tersebut membuat kaget warga. Pemilik sumur, Hosni, mengaku khawatir dengan kejadian tersebut. Sebab bau gas tersebut terus keluar sejak sumur itu dibor pada Sabtu (3/10).

Untuk menjaga kemungkinan terjadi sesuatu yang tak diinginkan, di lokasi sudah dipasang garis polisi. Dan lumpur yang keluar dari lubang sumur bor dialirkan ke belakang rumah menggunakan pipa kecil.

sumur bor keluar gasLumpur yang keluar dialirkan ke belakang rumah (Foto: Ahmad Rahman)

Menurut Mulyono, anak Hosni, sumur tersebut digali pada satu setengah bulan lalu dengan kedalaman 60 meter. Sumur tersebut mengeluarkan air normal seperti sumur kebanyakan. Namun debit airnya kecil.

Karena aliran airnya kecil, Sabtu lalu sumur tersebut dibor lagi dengan harapan agar sumber airnya makin besar.

"Sebelumnya galian bor kurang lebih kedalamannya sekitar 60 meteran. Karena sumber airnya sedikit, maka orang rumah berinisiatif ngebor lagi untuk menambah kedalaman 30 meter lagi sehingga totalnya 90 meter. Ternyata keluar semburan gas," kata Mulyono (27) kepada detikcom, Senin (5/10/2020).

Mulyono menceritakan ayahnya sangat khawatir karena gas yang keluar bersama air bercampur lumpur mengeluarkan api saat disulut dengan korek. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumenep Mohammad Sahlan mengatakan pihaknya dalam waktu dekat akan mendatangkan tim ahli dari Surabaya untuk melihat kandungan gas tersebut.

"Kami sedang menunggu tim ahli dari provinsi, SKK migas, dan bagian geologi. Tapi karena situasi sekarang COVID, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa datang ke sini dan mampu menenangkan masyarakat di sini dan masyarakat tidak was-was lagi untuk memasak dan sebagainya," kata Sahlan.

(iwd/iwd)