Jambangan Air Diduga Benda Purbakala Ditemukan di Persawahan Kota Blitar

Erliana Riady - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 18:11 WIB
penemuan jambangan air purbakala
Sebuah jambangan air besar ditemukan warga di areal persawahan (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Sebuah jambangan air berukuran besar ditemukan warga di areal persawahan Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan. Benda itu diduga bagian dari situs cagar budaya.

Keterangan dari Camat Sananwetan Heru Eko Pramono, warga melaporkan temuan itu pada Jumat (2/10). Menerima laporan temuan benda diduga cagar budaya, bersama Disparbud Kota Blitar, Heru menuju ke lokasi temuan. Tepatnya di persawahan di belakang STKIP Blitar di Jalan Kalimantan.

Di lokasi itu ditemukan batu berbentuk seperti lumpang atau tempat bersuci yang diperkirakan untuk melaksanakan peribadatan. Bentuknya persegi panjang dengan panjang sekitar 2 meter lebar sekitar 1,5 meter dan kedalaman sekitar 50 cm.

Selain itu, di sekitar areal itu juga ditemukan potongan batu bata berukuran besar. Jika dilihat sekilas dari bahan dan ukurannya, batu bata ini mirip dengan yang ditemukan di areal situs Candi Gedog.

"Batu berbentuk seperti jambangan berukuran sekitar 2x1,5 meter. Dengan kedalaman sekitar 50 cm. Di sekitar situ juga banyak ditemukan potongan batu bata berukuran besar sampai sejauh 200 meter ke arah timur dari lokasi ditemukannya batu semacam jambangan atau bak mandi itu," kata Heru kepada detikcom, Senin (5/10/2020).

Kepala Disparbud Kota Blitar, Tri Iman Prasetyono mengakui pihaknya sudah melihat lokasi temuan. Untuk tindakan selanjutnya, temuan dilaporkan ke BPCB Jatim yang kebetulan berada di Kota Blitar untuk melanjutkan ekskavasi tahap kedua situs Candi Gedog.

"Saya minta tolong pak camat untuk komunikasikan dengan warga sekitar untuk mengamankan lokasi. Dan untuk evakuasi benda itu akan dilakukan BPCB Jatim dibawa ke kantor disparbud," terang Tri Iman.

Menurut keterangan warga sekitar, mereka seringkali menemukan potongan batu bata dengan ukuran sama. Namun karena kondisinya sudah tidak utuh, mereka memanfaatkannya untuk menguatkan saluran pengairan di areal persawahan itu. Sekitar 500 meter dekat lokasi temuan, memang ada sebuah punden yang diyakini warga sekitar sebagai tempat keramat tinggalnya danyang (penunggu) lokasi tersebut.

Arkeolog BPCB Jatim Nugroho Harjo Lukito menyetujui adanya anggapan, punden identik dengan situs purbakala atau cagar budaya. Seperti punden Joko Pangon yang merupakan lokasi yang diduga tempat berdirinya situs Candi Gedog.

"Secara umum punden lebih banyak berkaitan dengan keberadaan sebuah situs. Di situ selalu ada tinggalan arkeologi. Entah itu bagian kecil arca, atau sisa pondasi bangunan kuno. Bahkan ada punden yang kemudian dijadikan makam, walaupun bukan makam asli. Jadi tidak menutup kemungkinan punden di Karangtengah itu memang lokasi sebuah situs," papar Nugroho.

Dari bentuk fisik benda serupa jambangan, Nugroho menilai, jambangan air itu, masa lalu biasanya dijadikan tempat menampung air bersih yang digunakan untuk penyucian sebelum memasuki tempat ibadah atau tempat yang disakralkan.

"Coba akan kami lakukan pemindahan. Dan kami lihat apa bagian bawahnya masih ada strukturnya atau tidak. Tapi ada indikasi sebelah timur dan seberapa besar potensinya, itu yang kami belum tahu," pungkasnya.

(iwd/iwd)