Viral Buaya di Sungai Brantas Kediri Dikaitkan dengan Mistis, Seperti Apa?

Andhika Dwi Saputra - detikNews
Kamis, 01 Okt 2020 17:58 WIB
sungai brantas kediri
Sungai Brantas tempat penampakan buaya (Foto: Andhika Dwi Saputra)
Kediri -

Viralnya buaya yang disebut berwarna putih di Sungai Brantas Kota Kediri membuat sebagian warga mengaitkannya dengan mistis. Apakah benar?

Budayawan Kota Kediri Imam Mubarok mengatakan jika benar yang muncul adalah buaya putih, maka biasanya memang membawa pesan dan harus ditafsiri.

"Mereka membawa pesan sebenarnya, bahwa ada sisi Kehati-hatian, bahwa buaya ini termasuk hewan yang setia, dan biasanya buaya di Brantas ini bisa berumur 100 hingga 200 tahunan. Mereka memberikan pesan biasanya ada suatu hal yang harus dipertimbangkan. Karena apapun di Sungai Brantas ini memiliki fakta sejarah yang luar biasa," jelas Imam kepada detikcom, Kamis (1/10/2020).

Laki-laki yang akrab disapa Gus Barok itu juga menilai kemunculan buaya putih pada tanggal 30 September malam hari itu sebagai pengingat sejarah tragedi G30S/PKI dan Hari Kesaktian Pancasila.

"Buaya putih ini merupakan makhluk yang dipercaya gaib oleh masyarakat Kediri yang menampakkan dirinya. Kenapa pada malam 30 September malam Kamis Kliwon itu buaya muncul di situ. Sebetunya peristiwa itu kalau kita melihat fakta sejarah, di tahun itu Sungai Brantas penuh dengan mayat korban G30S/PKI. Kira-kira memberikan pesan ke kita jangan sampai peristiwa itu terulang lagi," imbuh Gus Barok.

Selain itu Gus Barok juga menyebut kemungkinan kemunculan buaya putih merupakan peringatan di tahun politik agar calon-calon pemimpin menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana.

"Kalau tahun politik, sisi keselamatan menjadi hal yang sangat penting, sisi keadilan juga bahwa banyak pejabat yang tidak berani melewati jembatan, bahwa pesan yang disampaikan pemimpin harus menjadi pemimpin yang adil. Jangan sampai kutukan Kartikiya Singa Raja Kalingga selatan itu terjadi," lanjut Gus Barok.

Jadi proses itu adalah dari sisi keyakinan kembali, kita harus kembalikan pada segala sesuatu itu Allah yang mengatur, jika ada apa-apa itu hanya sebagai pertanda saja, semua kembali kepada manusianya.

Sejarah kemunculan buaya Sungai Brantas menurut Gus Barok telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan fenomena tersebut juga diabadikan di salah satu buku Belanda yang menceritakan terkait pembangunan jembatan lama Bandar atau yang disebut Jembatan Brug Over den Brantas te.

"Fenomena kemunculan buaya putih di Sungai Brantas ini sudah sejak lama. Orang-orang zaman dulu itu sudah biasa menemui, pun di catatan Belanda juga banyak. Pun saat pertama kali pembangunan Jembatan Brug Over den Brantas te Kediri pada tahun 1855 buaya putih sudah sering muncul," kata pria yang sering memakai sarung dalam kesehariannya tersebut.

Gus Barok juga mengungkapkan di Kediri ada 3 titik kemunculan buaya putih yakni di Desa Seketi, Kras, di Pusaran dekat Klenteng Tjoe Hwie Kiong, dan di pusaran jembatan lama.

(iwd/iwd)