Malang Terapkan 10-20-20 untuk Gempa Berpotensi Tsunami, Apa Artinya?

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 17:15 WIB
potensi tsunami di malang
Warning Receiver System yang diandalkan untuk potensi tsunami (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang -

Pesisir selatan Kabupaten Malang masuk wilayah rawan terjadinya gempa bumi dan tsunami. BPBD sudah banyak menggelar sosialisasi apabila bencana terjadi. Salah satunya, menerapkan 10-20-20. Apa artinya?

Sekretaris BPBD Kabupaten Malang Bagyo Setiono mengatakan, simulasi apabila terjadi gempa bumi berpotensi tsunami telah seringkali digelar, khususnya mengedukasi masyarakat yang berada di wilayah pesisir selatan.

Apabila terjadi gempa bumi berpusat di perairan selatan, maka ada waktu bagi masyarakat untuk menghindar atau menyelamatkan diri. Waktunya adalah kurang dari 1 menit.

"Kami mengajarkan 10-20-20 kepada masyarakat, ketika terjadi gempa. 10 detik segera berlari, ketika ada gempa, ada waktu 20 menit untuk mencari tempat lebih tinggi, dan mencari ketinggian minimal 20 meter dari permukaan tanah," ujar Bagyo kepada detikcom, Sabtu (26/9/2020).

Bagyo mengaku, mitigasi yang diterapkan memang agak berbeda. Tetapi, hal itu sebagai upaya dini apabila terjadi bencana tak membuat masyarakat menjadi korban. "Memang umumnya 20-20-20, tapi kita 10-20-20, bagaimana upaya menyelamatkan diri dari bencana," akunya.

BPBD Kabupaten Malang menyebut, wilayah pesisir Malang selatan telah dilengkapi peralatan canggih untuk mendeteksi dini pasca terjadinya gempa bumi. Alat bernama warning receiver system (WRS) new generation dipasang di beberapa tempat.

"Kami punya WRS new generation, tempatnya di kantor BMKG, kantor bupati, serta BPBD Kota Malang. Kesemuanya akan bisa mempercepat informasi, apabila terjadi gempa berpotensi tsunami. Kemudian diteruskan ke wilayah pesisir yang dilengkapi sirene," sebutnya.

Bagyo mengatakan, sepanjang pesisir selatan Kabupaten Malang dari mulai Ampelgading sampai dengan Donomulyo di ujung barat. Tidak banyak penduduk tinggal secara menetap. Mayoritas adalah, masyarakat yang mendirikan bangunan untuk menjalankan usaha.

"Untuk yang menetap hanya di wilayah Sendangbiru, dan Lebakharjo, Ampelgading. Itu saja tidak banyak. Jadi di wilayah pesisir Malang selatan tidak ada hunian masyarakat secara permanen disana," terangnya.

Meski begitu, upaya mitigasi apabila terjadi gempa bumi dan tsunami terus dilakukan. Karena Malang selatan pernah terimbas tsunami yang terjadi di Pancer, Banyuwangi, pada 1994 lalu.

"1994 lalu, satu dusun di wilayah Tamban terimbas tsunami Pancer, Banyuwangi. Pengalaman itu, kita terus melakukan mitigasi dan sosialisasi kepada masyarakat, untuk kesiapan menghadapi bencana," pungkas Bagyo.

(iwd/iwd)