Ini Alasan Remaja di Surabaya Tetap Nongkrong Saat Pandemi COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 18:47 WIB
pemkot surabaya rapid test warga yang nongkrong di suramadu
Warga nongkrong di kawasan suramadu (Foto: Istimewa)

Baginya, kelompok remaja akan merespon kondisi penuh tekanan dengan perilaku marah yang berlebihan. Sebab mereka sudah bosan dan terlalu lama di rumah.

"Mereka senang berkumpul dengan teman sebaya, mereka senang nongkrong berjam-jam," ujarnya.

Akibatnya, risiko penularan juga semakin tinggi. Sebab, saat nongkrong kebanyakan membuka masker, karena mereka tak hanya makan dan minum. Mereka juga mengobrol saat melepas masker.

"Risiko penularan tinggi karena sering bergerombol, berbagi makan, minuman, bercerita dan saling berdekatan. Supaya lebih akrab melepas masker," jelasnya.

Sementara, tegas dia, cara untuk mengingatkan kelompok usia muda agar tidak nongkrong, dilakukan dengan cara pendekatan ke personal. Melalui tokoh panutan dari kelompok juga bisa dilakukan untuk menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesehatan saat pandemi COVID-19.

"Mengajarkan remaja untuk mengenal emosinya, mengembangkan energi positif. Misalnya tetap berteman tetapi lewat medsos di bawah pengawasan orang tua. Melibatkan remaja dalam kegiatan sehari-hari di rumah," pungkasnya.

Halaman

(fat/fat)