Ini Alasan Remaja di Surabaya Tetap Nongkrong Saat Pandemi COVID-19

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 18 Sep 2020 18:47 WIB
pemkot surabaya rapid test warga yang nongkrong di suramadu
Warga nongkrong di kawasan suramadu (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Usia muda yang nongkrong sumbang 3.879 kasus COVID-19 di Surabaya. Kelompok usia muda itu sekitar 15 hingga 34 tahun. Dari data Dinkes Surabaya per 14 September 2020, angka itu menyumbang 29,36 persen dari total komulatif terkonfirmasi 13.208.

Dokter spesialis kejiwaan RSU dr Soetomo, dr Yunias Setiawati SpKJ mengaku kelompok usia muda ingin menunjukkan jati diri dengan membentuk kesetiakawanan sosial. Mereka berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Mereka menganggap saat berkumpul merasa aman, nyaman dan saling terlibat.

"Kedekatan dengan teman sebaya sering membuat mereka lupa dan tidak mengindahkan bahaya. Karena merasa akrab, tidak mungkin temannya sakit tidak besuk, padahal mereka juga memahami teman tersebut telah kontak dengan siapa, apakah mereka terpapar atau tidak," kata Yunias saat dihubungi detikcom, Jumat (18/9/2020).

Pada kondisi yang serba mendadak seperti saat pandemi COVID-19, jelas dia, memerlukan penyesuaian. Saat awal pandemi, mereka masih banyak yang patuh. Namun saat era new nomal, mereka sudah merasa bosan karena terlalu lama diam di rumah terpisah dengan teman. Akhirnya memutuskan untuk nongkrong atau mencari wifi untuk mengerjakan tugas.

"Mereka merasa aman berbicara dengan teman dan sering lupa memakai masker atau masker dipakai di atas dagu. Kondisi ini rawan penularan COVID-19," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2