Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini membeberkan alasan menolak pembangunan tol tengah kota pada 2014. Risma menilai tol itu akan membebani warga.
"Kenapa saya menolak jalan tol, karena saya melihat warga saya untuk minimal 20 tahun ke depan sebagian besar masih bisa naik motor. Misalkan kita buka sepeda motor tol bisa masuk tapi kan bayar (tol tengah). Kenapa saya nolak itu, kapan sugihe (kayanya) kalau dia kerja untuk bayar. Kalau dia bayar kapan sejahteranya dia. Itu harus dihitung," kata Risma kepada wartawan di rumah dinasnya, Jumat (28/8/2020).
Risma menjelaskan, tol tengah kota akan membuat Surabaya menjadi kota mahal, yang dipandang tinggi atau dinilai bagus dan megah. Kemudian kota mahal berdampak buruk yakni menimbulkan kesenjangan.
"Dampaknya kota rentan sekali terhadap kekacauan, disuntik sedikit pasti ribut karena kesenjangan tadi. Kesenjangan itu nanti akan memudahkan kota gampang demo, amarah, amukan, ada teorinya semua. Aku bukan ngawur, aku belajar. Aku main SimCity, ada di situ," jelasnya.
Alasan lainnya, ia menilai tol tengah kota bisa membuat warga Surabaya kesulitan mendapatkan air bersih. Sebab, jalur tol akan tidak sesuai dengan sistem aliran air di Kota Pahlawan.
Wali Kota Risma juga menilai, sudah banyak bangunan di tengah kota. Sehingga tidak bisa membuat tol di tengah kota.
"Kenapa aku nolak, jangan sampai ini orang dagang terganggu. Saya usaha ke bawah kayak underpass Mayjend. Saya tidak ingin ada masif, yang masif sudah diakomodir. Tapi nggak bisa yang tengah kota ini karena sudah masif bangunannya," terangnya.
Menurutnya, Surabaya tidak boleh hanya mencari untungnya saja dari pembangunan tol. Tapi dampaknya juga harus dipikirkan. Seperti dampak untuk bidang pendidikan atau kesehatan.
"Untuk apa kota itu dibangun kalau warganya tidak bisa cari uang, nggak bisa sekolah, kalau sakit bingung, untuk apa kota itu dibangun? Kenapa tol tengah kota dibongkar? Karena di situ banyak orang sakit, begitu dibongkar dijadikan sungai, orang sehat, suhu udara kembali dingin," pungkasnya.