Waspada Stunting Akibat Anemia Saat Hamil dan Asap Rokok

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 11 Agu 2020 21:46 WIB
Stunting merupakan pertumbuhan tubuh dan otak anak yang kurang maksimal akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Gambaran jumlahnya, satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting.
Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Siti Rahayu Nadhiroh SKM MKes/Foto: Istimewa
Surabaya -

Stunting merupakan pertumbuhan tubuh dan otak anak yang kurang maksimal akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Gambaran jumlahnya, satu dari tiga balita di Indonesia mengalami stunting.

Itu membuat stunting masih menjadi masalah gizi utama di Indonesia. Meski berkaitan dengan kekurangan gizi, namun faktor pemicu stunting sangat beragam.

Dalam penelitian disertasi baru-baru ini, Ahli Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Siti Rahayu Nadhiroh SKM MKes mengatakan, stunting atau rendahnya pertumbuhan bayi (kerdil) dapat disebabkan oleh kombinasi anemia dan asap rokok saat masa kehamilan. Menurutnya, bayi dengan paparan kombinasi tersebut memiliki skor pertumbuhan linier atau panjang badan lebih rendah.

"Bayi dengan paparan kombinasi asap rokok dan anemia kehamilan juga memiliki skor perkembangan motorik paling rendah, dibandingkan bayi non paparan dan paparan tunggal (anemia kehamilan saja atau asap rokok saja, red). Kondisi ini bila berlangsung terus-menerus, maka bayi berisiko mengalami stunting," kata Nadhiroh dalam keterangan pers yang diterima detikcom, Selasa (11/08/2020).

Dalam penelitian disertasinya itu, Nadhiroh menyampaikan, bayi dengan paparan kombinasi anemia kehamilan dan asap rokok memiliki skor pertumbuhan linier lebih rendah secara signifikan, sebesar 11,4 poin. Sedangkan, panjang badan menurut umur juga lebih rendah secara signifikan 0,8 poin dibandingkan bayi yang tidak terpapar.

Sedangkan pada perkembangan motorik, bayi memiliki skor motorik lebih rendah yakni 6,8 poin, jika dibandingkan bayi tanpa paparan.