Cerita Mahasiswa Unair Jadi Korban Fetish Pocong, Trauma dan Menganggap Aib

Esti Widiyana - detikNews
Minggu, 02 Agu 2020 13:49 WIB
fetish kain jarik
Foto: Tangkapan layar

Seiring berjalannya waktu, teman-temannya di FIB Unair menemukan masalah sesama angkatan. Dan teman-temannya tersebut mencoba mengkonfirmasi kepada dirinya, yang sudah tidak bergaul dengan pelaku lagi.

Akhirnya, P pun memberanikan diri untuk menceritakan ke teman-temannya tentang aksi Gilang. Mulai dari kejadian hingga ditutup kain dan llain-lain. Rupanya, teman-temannya pun syok.

"Teman saya tanya, kok nggak berontak, saya jawab saya tidak bisa berontak sama sekali. Rasanya setengah sadar, buat melek (buka mata) susah banget. Akhirnya temen-temen saya berspekulasi bahwa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh saya yang mengakibatkan saya seperti itu. Saya ditanya habis makan apa, saya bilang beli nasi goreng di luar dan tahu bikinnya gimana. Saya ditanya lagi saya dikasih minum apa, saya hanya dikasih air putih. Terus temen-temen saya bilang itu biang keladinya. Saya baru sadar ketika teman-teman menjelaskan, ada kemungkinan yang bersangkutan memberi sesuatu di dalam air putih. Sehingga saat melakukan aksinya saya tidak punya tenaga," cerita dia.

"Sebenernya sempat saya selesaikan secara kekeluargaan, bersama teman-teman duduk bersama. Saya ingin masalah ini selesai. Dari awal saya tidak ingin speak up, saya menganggap sebuah kecelakaan," tambahnya.

Setelah mendapat pelecehan seksual saat itu, P sempat merasa bersalah jika melapor. Karena pada waktu itu pemikirannya yang belum terbuka seperti saat ini. Dia hanya berpikir jika masih maba, belum tahu banyak tentang kehidupan. Dia justru merasa akan dihakimi massa dengan pertanyaan kenapa bisa hingga tidak hati-hati.

"Karena tipikal saya yang sedikit pasrah, ketika memang bisa diselesaikan baik-baik ya sudah. Waktu itu saya belum menemukan fakta di mana dia ternyata sebelum masuk kuliah sudah melakukan itu. Saya tidak ada niatan untuk melapor ke pihak kampus pun saya tidak ada niatan, saya merasa itu aib dan privat, disimpan sendiri dan kawan-kawan," ujarnya.

Dirinya pun tentunya merasa trauma saat itu. Bahkan dia trauma selama beberapa bulan hingga akhirnya kini dapat bangkit dan menyelesaikan pendidikan di Unair.

"Trauma pasti sih dan berlangsung selama berbulan-bulan karena seperti ada seseorang melakukan kejahatan dan itu tidak bisa dimaafkan. Dampaknya besar terutama kesehatan mental sempat down, tidak semangat, benci dengan diri sendiri. Dan itu berlangsung lama. Saya sering jatuh bangun kadang ada penolakan, saya merasa sudah kotor," pungkasnya.

Sebuah cuitan tiba-tiba saja viral di twitter. Cuitan tersebut berisi curahan hati seorang mahasiswa yang mengaku merasa dilecehkan seniornya sesama mahasiswa Unair. Bentuk pelecehan itu ia sebut dengan predator 'Fetish Kain Jarik'.

Di dalam utasnya, mahasiswa yang mengaku menjadi korban itu dipaksa 'membungkus' dirinya sendiri seperti mayat yang dikafani menggunakan kain jarit. Semua screenshot percakapan di DM Instagram dan WA ia keluarkan semua. Ia juga melengkapinya dengan foto. Ia menyebut pelaku adalah Gilang, seorang mahasiswa Unair akhir.

Halaman

(fat/fat)