Psikolog Sebut Fetish Pocong Bisa Muncul dari Paparan Media

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 31 Jul 2020 15:32 WIB
fetish kain jarik
Foto: Tangkapan layar
Surabaya -

Kasus fetish kain jarik bermodus riset akademis yang dilakukan oleh mahasiswa FIB Unair membuat orang bertanya-tanya. Banyak yang bertanya tentang apa itu fetish khususnya jenis fetish yang dilakukan oleh pelaku.

Psikologi Klinis SDM dari RS Adi Husada Undaan Wetan Surabaya, Reisqita Vadika MPsi menjelaskan jika segala sesuatu yang sifatnya non seksual bisa berupa anggota tubuh maupun objek non seksual yang dapat membuat seseorang merasa lebih bergairah secara seksual. Bahkan fetish dapat muncul dari paparan media, kemudian dipraktikkan agar bergairah.

"Fetish ini bisa muncul dari paparan media. Berawal dari liat dulu, tahu dulu, bahwa ada lho fetish seperti ini (bungkus kain jarik) dia bisa merasakan. Kemudian dia akan lebih bergairah dengan objek ini, bagian tubuh ini kemudian dia jadikan fetish-nya," kata Qiqi sapaan akrabnya kepada detikcom, Jumat (31/7/2020).

Sedangkan fetish yang dilakukan pelaku ini mirip dengan mumifikasi seksual yang terjadi di luar negeri. Bahannya pun dibuat dari kain tertentu atau latex.

"Kalau yang dipakai pelaku (G) ini kan jarik atau seprai. Terus di pakai lakban untuk mengikat," ujarnya.

Namun, untuk memuaskan hasratnya, pelaku membungkus korban layaknya jenazah yang telah dikafani. Apakah korban memiliki hasrat kepada jenazah? Qiqi pun tidak dapat menjawab apakah G memiliki hasrat kepada jenazah, karena bukan dia yang menangani. Tetapi ada nama fetishnya sendiri jika pelaku bergairah pada jenazah.

"Namanya necrophilia, dia bergairah kalau melihat jenazah bahkan ada keinginan untuk berhubungan badan. Karena orang itu bisa punya fetish macam-macam dan bentuknya itu aneh," jelasnya.

Menurut Qiqi, perlakuan pelaku kepada korban juga terdapat unsur abuse of power. Yakni memaksakan kepada korban untuk melakukan apa yang jadi kehendaknya bahkan mengancam para korban.

Jika terdapat seseorang yang mempunyai fetish tertentu, maka fetish itu dapat dihindari. Asalkan pelaku dapat mengontrol keinginannya.

"Misalnya dia mikir, wajar nggak sih atau memungkinkan nggak sih fetish-nya. Kalau mengganggu, dan dia nggak bisa terkontrol ada baiknya dia konsultasi ke profesional. Untuk korban jangan takut untuk bicara, memang di awal sangat sulit untuk bisa speak up. Apalagi Unair juga sudah menyediakan hotline, jadi buat para korban bisa langsung menghubungi biar traumanya bisa segera teratasi," pungkasnya.

(iwd/iwd)