Round-up

Kegeraman Hingga Harapan Pedagang Atas Hebohnya 'Klepon Tidak Islami'

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 26 Jul 2020 07:23 WIB
Pengusaha klepon gempol Pasuruan
Pengusaha klepon di Gempol, Pasuruan/Foto file: Muhajir Arifin

"Sebenarnya bingung juga kenapa kok dikatakan nggak islami. Kan beda misalnya dikatakan tidak halal. Kalau tidak halal itu bisa kita ketahui dari bahan, penyajian, pembuatan. Misal bagi Muslim tidak boleh pakai minyak babi, misalnya," kata Siti Maulidya (50), pemilik Toko Rapi Klepon, Jalan Raya Pandeanrejo, Lekok, Gempol, Pasuruan, Rabu (22/7/2020).

Ketua UMKM Kecamatan Gempol ini mengatakan, para pedagang juga tidak terpengaruh oleh isu tersebut. Mereka memilih diam.

"Jualan seperti biasa. Kalau pengaruh ke penjualan belum ada. Yang berdampak itu yang pandemi COVID-19 ini terasa. Kalau isu itu belum ada dampaknya," ungkap perempuan yang sudah 20 tahun jualan klepon ini.

Menurutnya, isu klepon tidak islami juga menuai respons beragam pedagang di sentra klepon Gempol, Pasuruan. Ada yang meradang, menyayangkan, bingung, namun ada juga harapan positif.

Ia melihatnya dari sisi bisnis. Pembuat isu tersebut, kata dia, ingin mengenalkan produknya dengan cara mendiskreditkan klepon. Namun isu itu bisa juga menguntungkan pedagang klepon.

"Bisa jadi dengan upayanya dia (pembuat iklan kelepon tidak islami) mau menekan klepon akhirnya nanti viralnya klepon malah jadi boom dicari orang. Mana sih jajanan klepon katanya tidak islami. Kalau dari saya segi bisnis bisa saja bermanfaat buat pedagang klepon. Kalau dikatakan seperti itu orang tidak akan percaya jelas malah mencari itu," tambah ibu dua anak ini.

"Berharap isu viral itu mengangkat penjualan klepon. Kalau pengaruh ke penjualan belum ada saat ini. Yang berdampak itu yang pandemi COVID-19 ini terasa. Mungkin kita lihat beberapa hari ke depan lah. Ada atau tidak ada dampak," pungkasnya.

Halaman

(sun/bdh)