Bupati Faida Kaitkan Pemakzulan dengan Pilkada, Ini Kata Pakar Politik Unej

Yakub Mulyono - detikNews
Sabtu, 25 Jul 2020 15:25 WIB
Pakar politik Universitas Jember M Iqbal
Pakar politik Universitas Jember M Iqbal (Foto: Istimewa)
Jember -

Bupati Jember Faida mengaitkan pemakzulan dirinya dengan momen Pilkada. Pakar politik Universitas Jember (Unej) menilai ada upaya Faida memanfaatkan pemakzulan untuk membangun opini publik dalam rangka meraih simpati masyarakat.

"Ya memang itu bahasa dia untuk memulai bahwa dia dizalimi," kata Dosen FISIP Unej M. Iqbal kepada detikcom, Sabtu (25/7/2020).

Faida memang akan maju lagi dalam Pilkada Jember pada 9 Desember 2020. Faida maju melalui jalur independen atau perseorangan.

"Dia mulai membangun opini publik bahwa dirinya sedang dizalimi, dalam konteks bagaimana partai-partai politik itu memakzulkan dia," terang Iqbal.

Seberapa efektifkah strategi itu untuk meraih simpati masyarakat? "Ya di level-level tertentu masih efektif. Tergantung dari realitas-realitas yang mengikuti, baik sebelum dan sesudahnya," jawab Iqbal.

Kalau realitasnya monolitik atau tunggal, menurut Iqbal itu akan sangat efektif. "Kalau tidak ada masalah terus tiba-tiba dizalimi, wah itu sangat efektif," ujarnya.

Iqbal mencontohkan ketika SBY hendak maju sebagai presiden. Pencopotan SBY dari Menkopolhukam tanpa ada alasan yang jelas, sangat efektif dijadikan bahan kampanye untuk meraih simpati masyarakat.

"Kita lihat kan hasilnya. Waktu itu SBY memperoleh lebih dari 60 persen suara," kata Iqbal.

Sebab, kata Iqbal, rakyat melihat saat itu SBY sedang dalam posisi dizalimi. Sehingga munculah simpati.

Sementara jika Faida ingin membangun upaya dengan cara seperti itu, menurut Iqbal efektifitasnya sangat kecil. Bahkan bisa menjadi bumerang.

"Dia sebagai petahana maju dari jalur independen saja logika publik sudah bertanya, petahana kok maju independen. Berarti dia kan sudah tak memiliki legitimasi dari partai politik. Sebagai petahana, harusnya partai pengusungnya kan bertambah. Ya paling tidak jumlahnya tetap seperti sebelumnya lah," urai Iqbal.

"Apalagi pemakzulan ini kan bukan peristiwa monolitik atau tunggal. Ada rentetan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Jika pemakzulan dipakai untuk meraih simpati, justru akan menjadi kick back (bumerang). Orang akan membaca, itu hanya sebagai upaya pembelaan diri saja," pungkas Iqbal.

(iwd/iwd)