Karantina Surabaya Musnahkan Komoditas Pertanian Berbahaya dari 26 Negara

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 16:35 WIB
pemusnahan komoditas pertanian ilegal
Pemusnahan di incinerator (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya -

Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya memusnahkan komoditas pertanian atau media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Tak hanya itu, komoditas tersebut juga masuk secara ilegal.

Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil mengatakan nilai komoditas yang dimusnahkan yakni sebesar Rp 6 juta. Menurutnya pemusnahan yang dilakukan jangan dilihat dari nilai nominalnya, tapi penyebaraan yang diakibatkan jika komoditas itu ditanam.

"Nilainya sekitar Rp 6 juta rupiah. Sebenarnya bukan nilai itu. Tapi bayangin ada benih melon itu sekitar 1 kilo kalau itu ditanam, nah penyebaran hama penyakit inilah yang perlu kita catat akan terjadi di negara kita. Poinnya itu," ujar Ali usai pemusnahan kepada wartawan, Jumat (24/7/2020).

"Jadi tugas karantina menjaga masuk atau tersebarnya hama penyakit atau hama pengganggu itu," tambahnya lagi.

Pantauan detikcom, pemusnahan dilakukan dengan dibakar dengan menggunakan incinerator. Adapun komoditas yang dimusnahkan yakni sebanyak 66,07 kilogram benih, 48 batang bibit tanaman, dan 1.500 stik bambu asal 26 negara.

Adapun untuk benih terdiri dari tanaman hias, buah, dan sayuran yang berasal dari Australia, Brunei Darussalam, China, Cyprus, Jerman, Yunani, Hong Kong, Japan, Kyrgyzstan, dan lainnya.

Ali menjelaskan selain membawa hama dan penyakit, komoditas tersebut juga tidak disertai jaminan kesehatan dari karantina pertanian dari negara asal. Komoditas ini diamankan saat masuk melalui kantor layanan karantina pertanian di wilayah kerja Kantor Pos Kediri, Bandar Udara Abdul Rahman Saleh, Malang dan Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya.

"Negara kita memberlakukan ketentuan untuk produk pertanian impor harus disertai jaminan kesehatan dari karantina pertanian dari negara asal," terang Ali.

"Untuk itu, selain melalukan penguatan sistem perkarantinaan, kami lakukan juga peningkatan sinergisitas untuk pengawasan baik dengan instansi terkait juga dengan masyarakat," tandasnya.

Tonton video 'Musisi Kafe Surabaya Galang Dana Dampak COVID-19':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)
Debat Capres AS