146 Perawat Surabaya Positif COVID-19, Terpapar di Mana?

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 15 Jul 2020 18:03 WIB
perawat rs royal positif corona
Foto: Tangkapan layar
Surabaya -

146 perawat di Surabaya positif COVID-19 dan 7 di antaranya meninggal. Dari mana ratusan perawat ini terpapar?

"Macam-macam, analisisnya karena membludaknya pasien itu jadi risiko tertular karena tinggi. Sehingga banyak pasien datang dengan OTG dirawat dengan biasa tidak dengan APD yang standar menjadi persoalan. Karena dari tujuh yang meninggal, dua di antaranya langsung memangani langsung di ICU lainnya di rawat inap, ada yang di poliklinik," kata kata Ketua DPW PPNI JATIM Prof Nursalam Mnurs saat dihubungi detikcom, Rabu (15/7/2020).

Nur sapaan akrabnya mengatakan, terkadang yang menjadi ketakutan perawat adalah tidak adanya pemisahan UGD antara pasien COVID-19 dan non COVID-19. Namun tidak semua rumah sakit di Surabaya tidak terpisah, bahkan ada yang terpisah hingga gedungnya.

Selain itu, perawat merupakan profesi yang paling intens bertemu dengan para pasien. Istilahnya FITT (Frekuensi, Intensitas, Time, dan Type) kontak yang tinggi.

"Frekuensi (sangat intens berinteraksi mulai pendaftaran, periksa, sampai dirawat), Intensitas (rata-rata setiap ke pasien minimal berinteraksi 10 sampai dengan 15 menit), Time (selama berdinas dalam 24 jam terus kontak), dan Type (tindakan yang dilakukan selain tindakan limpah, tindakan mandiri, dan pemenuhan kebutuhan dasar bahkan aspek psikososiospiritual)," ujarnya.

Nur mengatakan pelaksanaan tes PCR kepada perawat secara masif dan berkala setiap 14 hari perlu dilakukan. Sebab, penting untuk mendeteksi sejak awal agar bisa melindungi perawat dan pasien dari risiko penularan

"Harusnya kan dilakukan PCR secara berkala, nah ini belum dilakukan. Beberapa RS besar sudah tapi beberapa lain keberatan, karena mungkin harganya mahal dan lainnya," jelasnya.

Selain pelayanan kesehatan dalam promotif dan preventif sebagaimana standar new normal yang dikeluarkan WHO belum optimal diimplementasikan. Sehingga program 3T belum bisa berjalan dengan baik.

"Perlu pemberdayaan dan peningkatan peran perawat di FKT pertama (perawat Ponkesdes). Saya rasa pemerintah juga harus begitu, harus lebih intens lagi. Maka pemberdayaan mulai puskesmas menurut saya sangat penting," pungkasnya.

(iwd/iwd)