Kesulitan Pendonor, Stok Darah Plasma Konvalesen PMI Surabaya Menipis

Amir Baihaqi - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 12:41 WIB
Pendonor di PMI Surabaya
Pendonor di PMI Surabaya (Foto: Istimewa)
Surabaya -

PMI Kota Surabaya mengaku stok darah plasma konvalesen dari pendonor mantan pasien positif COVID-19 menipis. Hal itu karena PMI kesulitan mencari pendonor.

Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Surabaya dr Hj Budi Arifah mengatakan saat ini pihaknya hanya mempunyai 2 kantong darah golongan B. Padahal permintaan terus terus meningkat.

"Kemarin ini kami punya stok golongan darah A 5 kantong, B 5 kantong. Yang A ini habis pas ada permintaan lagi tapi belum dapat pedonornya. Kalau B sekarang tinggal 2 kantong," kata Budi kepada detikcom, Sabtu (4/7/2020).

"Ada juga permintaan golongan darah O tapi sama belum dapat pendonornya," tambah Budi.

Budi menambahkan tidak mudah memang mendapatkan pendonor plasma darah dari mantan pasien COVID-19. Menurutnya selama ini saja pihaknya baru mendapatkan tiga pendonor, itu pun atas upaya PMI sendiri.

"Kami baru dapat tiga pendonor sampai saat ini. Dan semua pendonor itu atas upaya dari PMI sendiri. Jadi memang ada yang datang tapi yang dua itu bekerjasama dengan Dinkes Surabaya," tuturnya.

"Jadi saya dapat datanya dari Dinkes Surabaya. Kemudian kami hubungi dan datangi. Terus semua persyaratannya cocok baru diambil," imbuh Budi.

Menurut Budi satu orang pendonor biasanya diambil darahnya sekitar 500 cc. Dari jumlah itu kemudian dibagi menjadi 5 kantong darah dengan kapasitas 100 cc.

"Biasanya kami mengambilnya 500 cc. Nanti kami bagi lagi dalam 100 cc jadi 5 kantong untuk satu orang," jelas Budi.

Dikatakan Budi plasma darah dari mantan pasien Corona memang belum teruji secara resmi. Namun pemberian plasma darah itu sudah pernah diberikan sebagai vaksin pasif ke pasien positif di Jakarta dan dinyatakan sembuh.

"Ya kalau yang sudah-sudah melakukan dari RSPAD kan memang menyembuhkan. Karena ini kan ibaratnya seperti vaksin pasif dari orang yang sembuh dari pasien COVID-19 otomatis dia punya antibodi," ucapnya.

"Kan tadi sudah dicek kan antibodinya nah itu nanti plasmanya dimasukkan ke orang yang sakit. Jadi seperti diberi vaksin pasif," katanya lagi.

Bagaimana dengan di Surabaya? Budi tidak mengetahui pasti apakah sudah ada pasien sembuh dari metode pemberian plasma darah ini. Namun ia mengaku selama ini belum menerima adanya keluhan mengenai plasma darah dari pihak rumah sakit.

"Kalau di Surabaya mungkin rumah sakit ya yang tahu. Karena mereka yang tahu pasti sembuh atau tidaknya. Tapi selama tidak ada keluhan dengan pemberian plasma. Berarti kan tidak ada masalah," pungkas Budi.

Plasma darah dari seseorang yang dinyatakan sembuh total dari virus Corona dipercaya bisa menjadi vaksin pasif. Meski begitu, bukan perkara mudah mendapatkan pendonor mantan pasien positif COVID-19.

Tonton juga 'Menristek: Riset Convalescent Plasma Buat Pasien Corona Mulai Ada Hasil':

[Gambas:Video 20detik]

(iwd/iwd)