Kerap Ditolak Ekskavasi Situs Purbakala, Dinas Pasuruan Tunggu Surat Resmi

Muhajir Arifin - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 08:39 WIB
Susunan Bata Kuno Ditemukan Saat Warga Bangun Plengsengan Irigasi
Penemuan batu bata kuno (Foto: Muhajir Arifin/detikcom)
Pasuruan -

Kades Dhompo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, Moh Salim, sangat antusias dengan penemuan susunan bata kuno diduga cagar budaya di desanya. Di berharap susunan bata tersebut benar-benar merupakan bangunan cagar budaya sehingga bisa dilakukan pemugaran.

"Kami akan segera rapat dengan perangkat dan tokoh masyarakat untuk tidak lanjut penemuan ini," kata Salim, Jumat (3/6/2020).

Untuk mendukung tim yang akan melakukan penelitian dan langkah-langkah lanjutan, ia menghentikan sementara pembangunan plengsengan irigasi. Tujuannya agar susunan bata tidak rusak.

"Sejak kami yakin ada bangunan kuno, saya hentikan sementara pembangunan. Harapan saya selanjutnya supaya kita merawatnya. Supaya bisa dilihat oleh anak cucu. Supaya bangga bahwa desanya sudah tua. Ada warisan sejarah," terangnya.

Sementara Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan belum menindaklanjuti temuan susunan bata kuno di Desa Dhompo, Kecamatan Kraton. Dinas menunggu laporan dan permintaan resmi dari pemerintah desa.

Susunan Bata Kuno Ditemukan Saat Warga Bangun Plengsengan IrigasiBata Kuno Ditemukan Warga/ Foto: Muhajir Arifin

"Sudah ada laporan lisan dari pak kades, dan kita sudah tinjau ke lokasi. Susunan bata itu diduga kuat bangunan cagar budaya. Diperkirakan berbentuk dinding pembatas, tapi di bawahnya ada bangunan yang lebih besar. Tapi untuk memastikannya perlu kajian dulu dari BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya)," kata Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Ika Ratnawati.

Ika menyatakan hingga kini belum melayangkan surat permintaan peninjauan awal ke BPCB. Pihaknya menunggu laporan dan permintaan resmi dari pemerintah desa.

"Kita belum ajukan tinjauan awal ke BPCB, takutnya nanti ada kasus yang sama, penolakan seperti sebelumnya. Saya minta dulu laporan dalam bentuk surat tertulis, permintaan untuk dikaji atau diekskavasi setelah itu baru saya bersurat ke BPCB. Kalau tiba-tiba saya panggil BPCB tanpa koordinasi dengan desa, nggak bisa," ungkapnya.

Selain surat resmi, koordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga harus dilakukan untuk menyatukan pemahaman. "Yang sudah-sudah saja, sudah ada permintaan tertulis, tapi akhirnya menolak," tandasnya.

Seperti diketahui rencana ekskavasi bangunan diduga cagar budaya di Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan, dihentikan karena pemilik lahan menolak. Penolakan ekskavasi juga terjadi Sendang Manik, Desa Manikrejo, Kecamatan Rejoso.

Tonton juga video 'Arca Kuno Diduga Sebagai Nisan Kubur Ditemukan Pinrang':

(fat/fat)