144 Perawat di Jatim Positif COVID-19, 9 Meninggal

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 19:23 WIB
Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Prof Nursalam
Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Prof Nursalam (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Profesi perawat memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terpapar COVID-19. Karena, perawat setiap harinya melakukan kontak saat merawat pasien positif Corona.

Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Prof Nursalam MNurs mengatakan perawat bekerja selama 24 jam dalam memenuhi kebutuhan pasien.

"Perawat bekerja 24 jam memenuhi kebutuhan pasien A sampai Z, membantu semua tindakan mulai buang air besar dan kecil. Berarti risiko untuk tertular lebih tinggi. Ini bisa menjadi catatan," kata Nursalam di Surabaya, Rabu (1/7/2020).

Selain itu, Nursalam menyebut tingginya risiko perawat tertular COVID-19 ini terbukti dari data PPNI Jatim. Nursalam mengatakan ada 144 perawat yang terkonfirmasi COVID-19 dan 9 di antaranya meninggal dunia

"50 persen yang terjangkit virus corona ialah bertugas di puskesmas, 50 persen di rumah sakit," imbuh Nursalam.

Dari 144 perawat yang terpapar COVID-19, Nursalam mengatakan ada yang kondisinya ringan, sedang hingga berat. Perawat yang kondisinya ringan melakukan isolasi mandiri dan yang sedang di gedung dan rumah sakit.

"Kondisinya ada yang masih diisolasi, ada yang negatif, tapi ada yang kondisinya parah, 30 persen masih dirawat di RS. Ada yang pakai ventilator, ada beberapa yang sudah tidak," jelasnya.

Melihat hal ini, Nursalam meminta pemerintah bisa memfasilitasi tes swab PCR secara berkala, minimal 14 hari sekali. Dia juga ingin kebutuhan dasar perawat bisa terpenuhi.

"Yang perlu saya advokasi adalah pemenuhan kebutuhan dasar terutama dari segi kesehatan, nutrisi, istirahat, vitamin tolong dipenuhi," lanjutnya.

Kebutuhan bagi perawat ini, tambah Nursalam, juga termasuk rumah kerja. Karena ada sejumlah perawat yang tidak boleh pulang. Selain itu, Nursalam juga berharap jam kerja perawat bisa diatur dengan baik agar tidak kelelahan dan berimbas pada imun rendah hingga mudah tertular.

"Termasuk rumah singgah yang termasuk dia misal tidak boleh pulang, harus disediakan tempat khusus seperti hotel. Ada rumah sakit besar yang sudah menyediakan tapi ada yang belum," ujar Nursalam.

"Lalu pengaturan shift kerja. Ada macam-macam, seminggu masuk, seminggu libur. Tapi ada juga yang bervariasi dan tidak demikian, sehingga mengakibatkan bebannya terlalu berat. Kurang istirahat dan menyebabkan kontak terlalu sering," harapnya.

(hil/iwd)