Ngenes, SMP Negeri di Tulungagung ini Cuma Dapat 3 Siswa

Adhar Muttaqien - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 15:40 WIB
smpn rejotangan tulungagung
SMPN Rejotangan Tulungagung (Foto: Adhar Muttaqien)
Tulungagung -

Tahun ajaran baru 2020/2021 menjadi pil pahit bagi SMP Negeri 2 Rejotangan Tulungagung. Selama proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), sekolah ini hanya mampu mendapatkan tiga siswa.

Kepala SMPN 2 Rejotangan Sukatrin mengatakan perolehan jumlah siswa tahun ini jauh di bawah batas maksimal atau pagu yang ditetapkan dinas pendidikan setempat yakni 128 siswa atau empat kelas. Sepinya jumlah pendaftar itu sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir.

"Pagu kami sebetulnya ada 128 bangku atau empat kelas. Terkait kondisi ini, sesuai petunjuk dari dinas pendidikan, kami akan terus membuka pendaftaran sampai waktu yang tak terhingga atau sebelum penutupan dapodik," kata Sukatrin, Rabu (1/7/2020).

Pihaknya mengaku sepinya pendaftar itu disebabkan oleh sejumlah faktor. Di antaranya adalah lokasi sekolah yang jauh dari permukiman penduduk, hingga dikepung oleh sejumlah sekolah swasta atau sekolah negeri yang lain. Kondisi tersebut mengakibatkan daya saing antar sekolah semakin ketat.

"Di sekitar sini setidaknya ada sembilan sekolah, di antaranya sekolah besar ada SMPN 3 Ngunut, MTsN Rejotangan kemudian ada juga sekolah swasta. Di sisi lain posisi sekolah kami kurang menguntungkan, karena jauh dari permukiman," ujarnya.

Kondisi tersebut mengakibatkan para calon siswa atau orang tua lebih memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah yang lebih dekat dari rumah maupun memilih sekolah yang berbasis agama.

Katrin mengaku berbagai upaya telah dilakukan oleh pihak sekolah, salah satunya dengan berkeliling ke berbagai sekolah dasar (SD) yang ada di sekitarnya guna menjaring calon siswa baru. Pihaknya juga melakukan upaya pendekatan lain melalui tokoh masyarakat. Namun kegiatan tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal.

"Kami melakukan upaya perekrutan siswa baru sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang telah ditentukan oleh dinas pendidikan. Sedangkan sekolah swasta kan bebas, dan jauh hari sudah membuka pendaftaran dan menawarkan berbagai fasilitas seperti seragam gratis dan sebagainya," ujar Sukatrin.

Pihaknya mengakui minimnya jumlah siswa baru tersebut akan mempengaruhi pasokan bantuan anggaran dari pemerintah, namun pihaknya optimistis kegiatan belajar mengajar akan tetap berjalan sebagaimana mestinya.

"Guru-guru di sini sudah profesional, sehingga berapapun jumlah siswa, kami akan tetap menjalankan KBM sebaik mungkin," imbuhnya.

Ditambahkan Katrin, merosotnya jumlah siswa baru di SMPN 2 Rejotangan tersebut telah terjadi sejak 2009 lalu. Guna meningkatkan peminat calon siswa baru, ke depan pihak sekolah akan mencoba dengan melakukan berbagai inovasi.

"Kami akan coba dengan berbagai ekstrakurikuler yang menarik," tandas Katrin.

(iwd/iwd)