PBNU Dan Kiai Sepuh Minta Pemerintah Lebih Perhatikan Ponpes Saat Pandemi COVID

Andhika Dwi Saputra - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 21:50 WIB
ponpes lirboyo
Foto: Andhika Dwi Saputra
Kediri -

Menghadapi pembelajaran new normal COVID 19, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta pemerintah pusat maupun daerah mendukung pondok pesantren dalam menangani santrinya. Sehingga tidak hanya bersifat pelayanan preventif namun juga pelayanan kuratif.

Hal tersebut diutarakan oleh Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf usai melakukan pertemuan dengan puluhan kiai sepuh pengasuh pesantren se-Jawa Timur dan Jawa Tengah di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri.

Menurut Gus Yahya, sudah mulai banyak pondok pesantren yang membuka kembali kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itulah perlu adanya perhatian pemerintah yang lebih kepada pesantren, khususnya dalam hal aspek pelayanan kuratif dibanding preventif.

Pelayanan kesehatan aspek kuratif merupakan kegiatan kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderitaan akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.

"Berdasakan pertemuan para kiai sepuh tadi, perlu adanya aspek kuratif, mengembangkan dan menambah lebih banyak fasilitas kesehatan publik, serta kemudahan dukungan pembiayaan para korban, sehingga ketika terjadi kasus orang yang terkena wabah ini dapat mudah mendapatkan pelayanan," jelas Gus Yahya kepada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Gus Yahya mencontohkan soal pelayanan kuratif di pondok pesantren. Sebelum kembali ke pesantren, santri diwajibkan menjalani tes kesehatan yang membutuhkan biaya. Kemudian saat berada di pesantren, meskipun telah dilakukan protokol kesehatan tetap ada kemungkinan terjadi 'outbreak' atau terjadi kasus COVID.

"Harus ada persiapan jika jika terjadi outbreak dalam sebuah pesantren saat terjadi kasus COVID-19, meskipun pesantren telah menetapkan protokol kesehatan. Kemudian santri sebelum kembali ke pondok harus menjalani tes kesehatan yang membutuhkan biaya, padahal santri sebagian besar berasal dari kalangan yang akan berat dengan biaya tersebut. Untuk itulah kami akan bicara dengan pemerintah yang relevan apakah ada skema untuk mendukung dan memberi dukungan, jika tidak NU dan pesantren harus berupaya secara mandiri menangani hal tersebut," imbuh Gus Yahya.

Tidak hanya aspek pelayanan kesehatan kuratif, para kiai juga bersepakat nantinya akan memberikan ijazah doa khusus agar dapat diamalkan secara istiqomah untuk masyarakat dan khususnya warga NU. Selain terpelihara dan terjaga dari ancaman wabah COVID-19, juga terhindar dari fitnah yang menyertainya, karena dalam situasi wabah ini.

"Tidak hanya kuratif, para kiai akan memberikan ijazah doa khusus agar dapat diamalkan secara istiqomah untuk masyarakat dan khususnya warga NU. Selain terpelihara dan terjaga dari ancaman wabah COVID 19, juga terhindar dari fitnah yang menyertainya," imbuh Gus Yahya.

Berdasar pantauan detikcom, dalam pertemuan di Ponpes Lirboyo Kediri yang berlangsung siang sampai sore hari tersebut turut hadir Rois am PBNU KH Miftahchul Ahyar, Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH. Ubaidullah Shodaqoh, dan KH Hasan Mutawail Alallah. Sejumlah pengasuh pesantren seperti KH Anwar Mansur dari Lirboyo, KH. Ubaidillah Faqih dari pesantren Langitan, KH Anwar Iskandar dari pesantren Al Amiin Rejomulyo Kediri dan KH Dian Nafi' dari ponpes Al Muayaad Surakarta.

(iwd/iwd)