Ini Peran dr Soetjipto, Tokoh yang Ada dalam Foto Pembacaan Proklamasi

Erliana Riady - detikNews
Senin, 22 Jun 2020 13:06 WIB
Sosok dr Soetjipto ramai didiskusikan usai muncul foto pembacaan teks Proklamasi dengan angle lain. Siapakah dr Soetjipto dan apa perannya dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?
Struktur organisasi tentara PETA/Foto: Erliana Riady
Blitar -

Sosok dr Soetjipto ramai didiskusikan usai muncul foto pembacaan teks Proklamasi dengan angle lain. Siapakah dr Soetjipto dan apa perannya dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

Foto pembacaan teks Proklamasi yang berbeda itu ditemukan Sejarawan Rusdhy Hoesein, di Perpustakaan Kerajaan Belanda di Den Haag. Ada 13 foto sejenis dengan beragam sudut pandang yang ia reproduksi dan dibawa ke Indonesia pada 2005.

"Dari hasil diskusi dan kesaksian beberapa pelaku ketika masih hidup dalam peristiwa pembacaan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur itu, kami yakini pria yang berdiri di belakang kiri Bung Karno adalah Eisei Chudanco dr Soetjipto," kata Rusdhy saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (21/6/2020).

Banyak dari kita yang sering melihat foto pembacaan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, 17 Agustus 1945. Namun tak banyak yang tahu siapa tokoh yang berdiri di belakang Soekarno, tepat di sebelah kanan Mohammad Hatta.Foto pembacaan teks Proklamasi dalam pengajuan pahlawan perintis kemerdekaan/ Foto: Erliana Riady


Rusdhy lalu memaparkan, dalam struktur organisasi tentara PETA, pangkat Eisei Chudanco berada di bawah Danton. Eisei menunjukkan jabatan strategis perwira bagian kesehatan. Nama dr Soetjipto Gondoamidjojo tercatat sebagai Eisei Chudanco di Daidan 1 Jakarta pada 1945.

Rentetan peristiwa bersejarah hingga pembacaan teks Proklamasi oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945, tak bisa dilepaskan dari pemberontakan PETA Blitar pada 14 Februari 1945. Semangat pemberontakan melawan penjajah yang dimulai di Blitar, memicu tentara PETA daerah lain untuk melakukan pemberontakan serupa.

Tonton juga video 'Wacana Gelar Pahlawan, Hendropriyono: Sultan Hamid II Pengkhianat':