Penolakan Ekskavasi Situs Purbakala Dua Kali Terjadi di Pasuruan

Muhajir Arifin - detikNews
Rabu, 17 Jun 2020 10:49 WIB
Penolakan Ekskavasi Situs Purbakala  di Pasuruan
Lokasi petirtaan kuno yang gagal diekskavasi (Foto: Muhajir Arifin/detikcom)
Pasuruan -

Rencana ekskavasi bangunan diduga cagar budaya di Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, dihentikan karena pemilik lahan menolak. Penolakan ekskavasi ternyata pernah terjadi di lokasi lain, yakni di Desa Manikrejo, Kecamatan Rejoso.

"Sebelumnya ekskavasi di Sendang Manik, Desa Manikrejo juga mendapat penolakan," kata Kata Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Ika Ratnawati, Rabu (17/6/2020).

Ika mengatakan penolakan ekskavasi di Desa Gondangrejo, Kecamatan Gondangwetan bisa dimaklumi karena belum dipastikan bangunan diduga cagar budaya atau bukan. Namun penolakan di Desa Manikrejo sangat mengecewakan.

"Sendang Manik itu sudah nyata-nyata cagar budaya tapi ternyata malah pemerintah desanya menolak ekskavasi, menghalangi kita, ya udah kita lepas," terang Ika.

Padahal, pihaknya dan BPCB Jatim sudah melakukan penelitian dan pembersihan lokasi untuk persiapan ekskavasi. Sejumlah dana juga sudah dikeluarkan.

"Padahal kalau udah ada ekskavasi dan dijadikan objek wisata, kita mau membangun ekonomi rakayat di sana," ungkap Ika.

Penolakan Ekskavasi Situs Purbakala  di PasuruanLokasi petirtaan kuno yang gagal diekskavasi/ Foto: Muhajir Arifin

Sendang Manik berupa kolam di bawah pepohonan tua yang terletak di tengah persawahan. Bangunan petirtaan kuno tersebut perkirakan seluas 33 x 15 meter yang sebagian masih terkubur tanah.

Sebelum diketahui sebagai bangunan cagar budaya pada 2018, warga menganggapnya kolam tua biasa dan dimanfaatkan untuk irigasi dan mandi. Bahkan banyak warga percaya berendam di kolam bisa menyembuhkan penyakit.

Pemerintah desa menolak ekskavasi setelah terjadi pro dan kontra warganya. Sebagian warga menolak karena khawatir jika bangunan dipugar akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Karena ekskavasi dibatalkan, hingga saat ini, belum dipastikan petirtaan tersebut dibangun pada tahun berapa dan peninggalan kerajaan apa, meski diduga kuat peninggalan Majapahit.

"Hal ini sangat berbeda dengan di Desa Candiwates, Kecamatan Prigen. Pemerintah desa dan pemilik lahan sangat mendukung ekskavasi," terang Ika.

Pada Juli 2018, struktur bata kuno ditemukan di persawahan Dusun Kalongan, Desa Candiwates, Kecamatan Prigen. Setelah dilakukan ekskavasi, struktur tersebut diketahui saluran air kuno yang terpendam 1 meter di bawah tanah.

Secara umum kondisi saluran air diduga peninggalan Majapahit itu masih utuh. Terdapat beberapa kerusakan namun bisa dipugar karena modelnya sudah ditemukan. Saluran air ini memanjang dari selatan ke utara.

(fat/fat)