Ambulans Diancam Dibakar, Jenazah COVID-19 Dimakamkan Tanpa Protokol Corona

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 15 Jun 2020 20:49 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Pamekasan -

Sebuah ambulans yang membawa jenazah COVID-19 diadang ratusan warga Kecamatan Waru, Pamekasan. Warga menolak jenazah dimakamkan dengan protokol COVID-19.

Warga tak ingin pemakaman itu akan menjadikan Pamekasan yang zona hijau menjadi zona merah. Bahkan warga sempat mengancam akan membakar ambulans tersebut jika pemakaman diteruskan.

Namun akhirnya, warga memberi syarat apabila ingin dimakamkan, jenazah harus dimakamkan tanpa protokol COVID-19.

"Jenazah suruh turunkan. Petugas buka hazmat semua. Suruh seperti jenazah biasa. Bilangnya warga tidak percaya anggap COVID-19 bohong. Diancam mau dibakar, terpaksa petugas mengalah. Biar selamat," ujar Ketua Tim Penanganan COVID-19 RSUD Pamekasan dr. Syaiful Hidayat saat dihubungi detikcom di Surabaya, Senin (15/6/2020).

Syaiful mengatakan pihak rumah sakit cukup kaget dengan pengadangan warga. Waktu itu, ambulans pembawa jenazah telah dikawal pihak keluarga. Pihak keluarga juga sudah paham jika anggota keluarganya meninggal akibat COVID-19.

"Keluarga gak ada masalah sebenarnya. Tapi dikejar warga dan sempat terjadi keributan, massa banyak. Lalu jenazah diserahkan ke keluarga. Habis itu petugas pulang. Secara protokol jenazah langsung ke pemakaman. Tapi situasinya seperti itu. Sebenarnya gak sesuai protokol," paparnya.

Sementara itu, Syaiful menyebut pihaknya akan melakukan tracing pada keluarga hingga warga yang ikut memakamkan jenazah tersebut.

"(Dinkes dan Puskesmas) pasti bergerak arah sana (tracing). Puskesmas dan dinkes pasti buat pelacakan. Tracing ranahnya di luar rumah sakit," pungkas Syaiful.

Ratusan orang di Kecamatan Waru, Pamekasan, Madura melakukan pengadangan ambulans yang membawa jenazah COVID-19. Pengadangan ini dilakukan karena mereka tak ingin wilayahnya yang zona hijau menjadi zona merah.

Hal ini dibenarkan Ketua Tim Penanganan COVID-19 RSUD Pamekasan dr. Syaiful Hidayat. Syaiful menyebut peristiwa yang terjadi pada Rabu malam (10/6) mendapat pengadangan sekitar 300 warga.

(hil/iwd)