Pemudik di Blitar Bisa Karantina di Rumah Sendiri, Tapi Ada Syaratnya

Erliana Riady - detikNews
Senin, 25 Mei 2020 12:31 WIB
karantina di blitar
Salah satu rumah yang anggota keluarganya menjalani karantina (Foto: Erliana Riady)
Blitar -

Desa Purworejo Kecamatan Sanankulon punya cara efektif memutus rantai penyebaran COVID-19 saat lebaran. Pihak desa menempeli rumah pemudik dengan tulisan isolasi mandiri dan melarang warga lain berkunjung untuk silaturahmi.

Kades Purworejo Kalingga Purnomo mengatakan dengan ditempeli stiker ini memaksimalkan peran serta warga lain ikut memantau para pemudik. Apalagi pemudik yang memilih isolasi mandiri di rumah yang dikunjungi.

"Warga desa ini yang mudik, langsung kami tetapkan statusnya Orang Dengan Resiko (ODR). Sehingga, rumah yang mereka kunjungi kami tempel stiker, apalagi mereka yang memilih isolasi mandiri di rumahnya masing-masing," kata Kalingga kepada detikcom, Senin (25/5/2020).

Menurut Kalingga, tak hanya Purworejo yang meminta pemudik memilih lokasi isolasi. Pantauan detikcom, sebagian besar desa di Kabupaten Blitar juga menerapkan skema penanganan isolasi pemudik seperti itu.

Pemudik bisa menentukan, memilih isolasi di rumah yang dikunjungi atau isolasi di rumah singgah yang disediakan setiap desa. Ada beberapa persyaratan jika pemudik memilih isolasi mandiri di rumah yang dikunjungi.

"Kalau disini, syarat bisa isolasi mandiri itu diantaranya penghuni rumah itu kurang dari 3. Tidak ada balita, dan kondisi kesehatan pemudik bagus. Tapi kalau penghuni rumah banyak dan ada balita, tetap kami sarankan isolasi di desa," jelasnya.

Sejak tanggal 15 Mei lalu, lanjutnya, sudah terdata sebanyak 192 pemudik datang ke Desa Purworejo. Dan jumlah ini terus bertambah puluhan orang sampai H+1 Lebaran. Sehingga, tulisan isolasi mandiri di rumah pemudik juga menyesuaikan kapan masa isolasi 14 hari itu berakhir.

"Sampai H-7 lebaran, masih ada 8 rumah dengan tulisan isolasi mandiri itu. Terus malam takbiran itu, pukul 01.00 WIB masih ada dua keluarga pemudik dari Gresik dan Surabaya," imbuhnya.

Kalingga mengaku tidak bisa menghalangi kedatangan pemudik yang lolos di check point perbatasan. Apalagi, jika lokasi rumah yang dikunjungi berada di pinggir jalan antar provinsi. Karena pihak desa tidak bisa memasang portal di jalan raya antar kota tersebut.

"Hampir semua jalan desa sudah kami pasang portal Jadi silaturahmi lebaran juga kami batasi warga satu RT saja," tandasnya.

Pantauan detikcom, pemasangan portal merata di setiap gang masuk desa. Tak hanya di Desa Purworejo, namun juga desa-desa di 22 kecamatan di Kabupaten Blitar. Selama lebaran sampai H+3 portal ditutup total.

"Kalau Purworejo sampai H+7. Kami menyesuaikan kondisi. Kalau yang silaturahmi masih ramai, kami akan perpanjang. Namun kalau kelihatan sepi, kami akan buka tutup pada H+4," pungkasnya.

(iwd/iwd)